BOGOR — Sepuluh tahun lalu, Kampung Maghfirah belum seperti sekarang. Di lereng Gunung Pangrango, Bogor, kawasan itu masih berupa hamparan tanah dengan akses yang terbatas. Bangunan belum banyak berdiri, fasilitas pendidikan masih sederhana, dan sejumlah mahasiswa bahkan harus tinggal di rumah kontrakan di luar kawasan.
Namun, dari keterbatasan itulah sebuah ikhtiar dimulai.
Sedikit demi sedikit, pembangunan dilakukan. Aktivitas pendidikan dan dakwah berkembang. Orang-orang datang untuk belajar, mengajar, mengabdi, dan mendukung perjuangan. Hingga satu dekade kemudian, kawasan tersebut tumbuh menjadi Kampung Maghfirah, sebuah kawasan pendidikan dan dakwah Islam yang memadukan pendidikan, pembinaan Al-Qur’an, pembentukan karakter, dakwah, dan pengabdian kepada umat.
Ahad (27/9/2026), perjalanan satu dekade itu diperingati dengan cara yang sarat makna. Bukan sekadar perayaan ulang tahun, melainkan melalui Sujud Syukur 10 Tahun Kampung Maghfirah sekaligus Ikrar Wakaf di Masjid I’tikaf Kampung Maghfirah, Bogor.
Sekitar 2.000 orang hadir. Mereka terdiri atas para tamu undangan, tokoh, santri MILBoS International, civitas Institut Pendidikan Islam Maghfirah (IPIM), waqif, orang tua asuh, serta jamaah yang selama ini menjadi bagian dari perjalanan Kampung Maghfirah.
Di tengah kebersamaan itu, satu pesan terasa kuat: apa yang dibangun selama sepuluh tahun pertama bukanlah tujuan akhir. Ia adalah fondasi untuk perjalanan yang jauh lebih panjang.
Sepuluh Tahun yang Bertumbuh dari Keterbatasan
Kampung Maghfirah berada di kawasan lereng Gunung Pangrango, Bogor, dengan luas sekitar 50 hektare dan ketinggian kurang lebih 800 meter di atas permukaan laut.
Mengusung semangat “Taman Nyaman Belajar Islam”, kawasan tersebut dikembangkan sebagai lingkungan pendidikan Islam terpadu yang memadukan pendidikan formal, pembinaan Al-Qur’an, pembentukan karakter, dakwah, dan pengabdian sosial.
Perjalanannya dimulai pada 2016
Ketika itu, berbagai keterbatasan masih menjadi bagian dari keseharian. Akses menuju kawasan belum memadai. Bangunan dan fasilitas pendidikan belum seperti sekarang. Bahkan, tempat tinggal mahasiswa masih menggunakan bangunan kontrakan di luar kawasan.
Tetapi keterbatasan tidak menghentikan langkah.
Pembangunan dilakukan secara bertahap. Aktivitas pendidikan dan dakwah terus berkembang. Dari waktu ke waktu, kawasan yang semula hanya berupa hamparan tanah mulai dipenuhi bangunan, aktivitas pembelajaran, dan kehidupan pendidikan.
Kini, Kampung Maghfirah menaungi sejumlah lembaga pendidikan, antara lain MILBoS International untuk jenjang MTs dan MA, Institut Pendidikan Islam Maghfirah (IPIM) untuk pendidikan tinggi, serta Qur’anic Character School (QCS) untuk jenjang SDIT dan SMPIT.
Selain pendidikan formal, berbagai kegiatan pendidikan Al-Qur’an, pesantren, dakwah, sosial, dan pembinaan umat juga berlangsung di kawasan tersebut.
Perubahan itu menjadi bagian yang disyukuri ketika ribuan jamaah berkumpul dalam peringatan satu dekade.

Sujud Syukur untuk Perjalanan yang Telah Dilalui
Rangkaian acara diawali dengan khotmil Qur’an dan pembacaan Al-Qur’an. Setelah itu, jamaah menyaksikan video pembukaan dan mendengarkan sambutan serta pesan dari para tamu undangan.
Setelah rangkaian tersebut, jamaah melaksanakan shalat Ashar berjamaah.
Suasana kemudian menjadi lebih khidmat ketika Syeikh Riyadh Ahmad Dyab memimpin Sujud Syukur. Ribuan jamaah bersujud bersama.
Sujud itu menjadi simbol rasa syukur atas perjalanan sepuluh tahun yang telah dilalui. Tetapi lebih dari itu, ia menjadi ruang untuk mengingat kembali orang-orang yang berada di balik perjalanan panjang tersebut.
Ada para pendiri dan pengasuh. Ada guru dan pendidik. Ada santri dan mahasiswa. Ada jamaah, waqif, orang tua asuh, serta berbagai pihak yang memberikan dukungan dalam bentuk tenaga, pikiran, doa, maupun materi.
Sepuluh tahun Kampung Maghfirah pada akhirnya bukan hanya cerita tentang bangunan yang bertambah atau lembaga yang berkembang. Ia adalah cerita tentang orang-orang yang memilih untuk ikut mengambil bagian dalam sebuah perjuangan.
Ketika Wakaf Menjadi Janji untuk Masa Depan
Setelah Sujud Syukur, acara memasuki agenda yang menjadi salah satu tonggak penting perjalanan Kampung Maghfirah: Ikrar Wakaf.
Ikrar disampaikan Ustadz Firman M. Nur. Setelah itu dilakukan pengangkatan dan pelantikan anggota Badan Wakaf Kampung Maghfirah.
Wakaf dalam momentum tersebut menjadi lebih dari sekadar pengelolaan aset. Ia menjadi ikhtiar untuk menjaga keberlanjutan perjuangan.
Harapannya, Kampung Maghfirah tidak bergantung kepada satu sosok atau satu generasi. Nilai, aset, pendidikan, dan cita-cita yang telah dibangun dapat terus dijaga, dikembangkan, dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
Dengan demikian, apa yang dirintis oleh generasi pertama tidak berhenti ketika mereka tidak lagi berada di garis depan. Estafet itu harus terus berjalan.
Rangkaian kegiatan kemudian dilanjutkan dengan penyampaian pesan dan sambutan dari Ustadz Arifin dan Ustadz Ahmad Hatta.
Belajar dari Gontor yang Telah Berusia Satu Abad
Pesan tentang bagaimana sebuah lembaga menjaga keberlanjutan perjuangan juga hadir dari Ustadz Suharto, tamu kehormatan yang hadir sebagai utusan Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor.
Dalam sambutannya, ia menyampaikan sejumlah nilai yang menjadi bagian dari perjalanan Gontor hingga mampu bertahan dan berkembang selama 100 tahun.
Salah satu yang ditekankan adalah keikhlasan.
Para pendiri dan perintis, sebagaimana pesan yang disampaikan, meletakkan perjuangan bukan semata-mata untuk kepentingan pribadi. Perjuangan dipandang sebagai bagian dari ibadah dan pengabdian untuk memberikan manfaat seluas-luasnya bagi umat dan bangsa.
Pesan tersebut menjadi refleksi bagi Kampung Maghfirah yang baru menyelesaikan satu dekade pertamanya.
Sebab, perjalanan lembaga tidak hanya ditentukan oleh seberapa besar bangunan yang berhasil didirikan, tetapi juga oleh seberapa kuat nilai yang diwariskan kepada generasi berikutnya.
Sepuluh tahun pertama menjadi masa merintis, membangun, dan mengembangkan. Dekade berikutnya diharapkan menjadi fase untuk memperkuat sistem, menjaga nilai perjuangan, serta memastikan estafet kepemimpinan dan pengabdian terus berlangsung.

Dari 10 Tahun Menuju 100 Tahun Khidmat
Peringatan satu dekade Kampung Maghfirah akhirnya menemukan maknanya pada dua kata: syukur dan keberlanjutan.
Sujud Syukur menjadi ungkapan terima kasih atas apa yang telah dilalui. Ikrar Wakaf menjadi ikhtiar agar perjalanan tersebut tidak berhenti di satu generasi.
Dari kawasan yang dahulu masih berupa hamparan tanah dengan akses terbatas, kini Kampung Maghfirah telah berkembang menjadi kawasan pendidikan dan dakwah yang menaungi berbagai lembaga dan melibatkan santri, mahasiswa, pendidik, jamaah, serta masyarakat.
Namun, perjalanan itu belum selesai.
Memasuki dekade kedua, Kampung Maghfirah membawa harapan agar sepuluh tahun pertama menjadi fondasi untuk membangun sesuatu yang lebih panjang dan lebih luas manfaatnya.
Bukan hanya membangun untuk hari ini, tetapi menyiapkan perjuangan yang dapat terus hidup ketika generasi berganti.
Sebab, wakaf pada akhirnya bukan hanya tentang apa yang diberikan hari ini. Ia adalah ikhtiar untuk memastikan kebaikan terus mengalir pada hari-hari yang belum datang.
Dengan semangat keikhlasan, pendidikan, dakwah, wakaf, dan pengabdian, Kampung Maghfirah menatap perjalanan berikutnya.
Add VOI as a Preferred Source
Follow VOI news updates across Google.
+
