Jakarta – Irak menyatakan telah mencapai kesepakatan dengan Amerika Serikat (AS) untuk melanjutkan pengiriman uang tunai dolar ke negara tersebut. Pengiriman baru dijadwalkan tiba dalam beberapa hari mendatang setelah pasokannya sempat terganggu selama berbulan-bulan.
Menurut Anadolu Agency, disitat Minggu, 27 September yang mengutip Iraqi News Agency, Juru Bicara Pemerintah Irak Haider al-Aboudi mengatakan kesepakatan itu dicapai saat kunjungan Perdana Menteri Ali Faleh al-Zaidi ke Amerika Serikat.
“Pengiriman baru akan tiba dalam beberapa hari mendatang,” kata al-Aboudi, Sabtu, 26 September.
Namun, ia belum mengungkapkan nilai maupun tanggal pasti kedatangan uang tunai tersebut.
Pengiriman dolar diperlukan untuk memenuhi kebutuhan mata uang asing di Irak. Negara itu masih sangat bergantung pada transaksi tunai, sehingga ketersediaan uang fisik menjadi bagian penting dalam kegiatan ekonominya.
Kesepakatan tersebut dicapai setelah pemerintah Irak mengambil sejumlah langkah untuk memperketat pengawasan distribusi dolar dan mencegah penyalahgunaan mata uang asing.
Baghdad juga memperluas penggunaan pembayaran elektronik sebagai bagian dari upaya mengembangkan ekonomi digital.
Sebelumnya, AS menghentikan pengiriman uang tunai dolar ke Irak pada April 2026, termasuk satu pengiriman yang diperkirakan bernilai sekitar 500 juta dolar AS.
Penghentian itu dilakukan ketika Washington menekan Baghdad agar membatasi pengaruh kelompok bersenjata yang didukung Iran.
Sebagian pengiriman dolar kemudian kembali dilakukan pada Juli, sebelum pemerintah Irak mengumumkan kesepakatan terbaru mengenai kelanjutan pengiriman tersebut.
Cadangan devisa Irak sendiri disimpan dalam rekening di Federal Reserve Bank of New York, salah satu bank dalam sistem bank sentral Amerika Serikat.
Add VOI as a Preferred Source
Follow VOI news updates across Google.
+
