Keuangan Syariah Indonesia Masih Punya Banyak PR


SURABAYA — Bank Indonesia (BI) menilai Indonesia perlu memperkuat sektor ekonomi dan keuangan syariah agar dapat memanfaatkan potensi pasar global secara optimal. Penguatan diperlukan terutama pada sektor keuangan syariah yang masih menghadapi sejumlah tantangan.

Gubernur BI Destry Damayanti mengatakan Indonesia saat ini berada di peringkat keempat dunia dalam pengembangan ekonomi dan keuangan syariah. Posisi tersebut, menurut dia, banyak ditopang oleh perkembangan modest fashion dan produk makanan halal.

“Indonesia saat ini berada dalam peringkat keempat dari global soal pengembangan ekonomi dan keuangan syariah. Kita sangat ditolong dengan modest fashion yang sekarang sudah sangat mendunia, kemudian makanan halal,” kata Destry dalam pembukaan Festival Ekonomi Syariah (Fesyar) Jawa 2026 di Surabaya, Sabtu.

Namun, Destry mengingatkan posisi Indonesia tersebut mengalami penurunan dibandingkan sebelumnya yang berada di peringkat ketiga. Kondisi itu menunjukkan masih diperlukan penguatan pada sektor ekonomi syariah lainnya, khususnya keuangan syariah.

Menurut dia, pengembangan keuangan syariah di Indonesia masih menghadapi banyak pekerjaan rumah yang perlu diselesaikan.

“Jadi yang kita enggak boleh terlalu leha-leha. Keuangannya khususnya. Keuangan syariah itu kita PR-nya masih banyak sekali, karena kita di itu ketat, sehingga produk keuangan syariah memang menjadi sangat terbatas,” ujarnya.

Indonesia Masih di Bawah Malaysia

Destry menyebut Indonesia memiliki skor 96 dalam pengembangan ekonomi dan keuangan syariah. Angka tersebut masih berada di bawah sejumlah negara yang menempati posisi teratas.

Malaysia, misalnya, mencatat skor 186,1 sekaligus menempati peringkat pertama dunia. Selanjutnya, Uni Emirat Arab (UAE) memperoleh skor 137,5 dan Arab Saudi 107,9.

“Jujur saja ranking empat ini sebenarnya penurunan dari ranking tiga dulu. Kita turun akhirnya bukan di fashion-nya, bukan di produk halalnya, tapi untuk hal lainnya,” kata Destry.

Menurut dia, kondisi tersebut menjadi pengingat bahwa Indonesia tidak boleh hanya mengandalkan kekuatan pada sektor modest fashion dan produk halal.

Penguatan sektor keuangan syariah menjadi salah satu pekerjaan penting agar Indonesia dapat meningkatkan posisi dalam industri ekonomi syariah global.

Filipina dan Thailand Bidik Keuangan Syariah

Destry juga menyoroti perkembangan sejumlah negara ASEAN yang mulai melihat peluang dalam industri keuangan syariah.

Filipina dan Thailand, kata dia, mulai membidik posisi sebagai pusat keuangan syariah meskipun keduanya bukan negara dengan mayoritas penduduk Muslim.

Menurut Destry, kedua negara melihat ekonomi syariah sebagai sektor yang memiliki nilai ekonomi dan menarik bagi investor global. Karena itu, mereka berupaya mengambil peluang untuk berkembang menjadi pusat keuangan syariah.

Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa ekonomi dan keuangan syariah tidak lagi hanya menjadi perhatian negara-negara dengan mayoritas penduduk Muslim.

“Ini adalah suatu model kegiatan yang sangat baik sekali dan dia akan sangat terbuka,” ujar Destry.

BI Dorong Ekonomi Syariah Lebih Inklusif

Karena itu, Destry mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk mengembangkan ekonomi dan keuangan syariah Indonesia dengan perspektif yang lebih universal.

Menurut dia, prinsip inklusivitas, keberlanjutan, dan keadilan perlu menjadi landasan dalam pengembangan sektor tersebut sehingga ekonomi syariah dapat menjangkau pasar yang lebih luas.

“Mari kita bersama-sama mengembangkan ekonomi keuangan syariah ini dengan melihat dengan lebih universal lagi, karena ini adalah suatu model kegiatan yang sangat baik sekali dan dia akan sangat terbuka. Inklusif itu definitif harus kita pegang, kemudian sustainable, dan otomatis fairness,” kata Destry.

Penguatan tersebut diharapkan tidak hanya meningkatkan posisi Indonesia dalam peta ekonomi syariah global, tetapi juga memperluas akses masyarakat dan pelaku usaha terhadap produk serta layanan keuangan syariah.

Add VOI as a Preferred Source

Follow VOI news updates across Google.

+





Sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *