Penguatan Industrialisasi Bisa Kurangi Tekanan terhadap Rupiah



JAKARTA – Ekonom Universitas Indonesia (UI) Fithra Faisal Hastiadi menilai penguatan industrialisasi menjadi salah satu strategi untuk mengurangi tekanan terhadap nilai tukar rupiah.

Menurut Fithra, tekanan terhadap rupiah tidak cukup diatasi hanya melalui intervensi Bank Indonesia (BI) karena persoalan pelemahan nilai tukar juga berkaitan dengan masalah struktural, salah satunya deindustrialisasi.

“Jadi masalah (pelemahan) rupiah itu lebih struktural. Makanya turun terus dan meleset terus. Sehingga sektor mana yang paling bisa terdampak, itu sektor manufaktur lagi akhirnya,” kata Fithra dalam ANTARA Business Forum (ABF) 2026 di Jakarta, Rabu, 23 September.

Ia menjelaskan kontribusi sektor manufaktur terhadap produk domestik bruto (PDB) saat ini sekitar 18 persen. Menurut dia, kondisi tersebut mencerminkan persoalan deindustrialisasi yang membuat kemampuan industri dalam menghasilkan barang untuk pasar internasional menjadi terbatas.

Keterbatasan tersebut kemudian berdampak terhadap kinerja perdagangan dan transaksi berjalan (current account), yang pada akhirnya dapat memberikan tekanan terhadap rupiah.

“Kita tradable sectors-nya terbatas. Kita enggak bisa jual lebih banyak barang keluar. Yang bisa kita jual cuma komoditas. Nah, ini jadi masalah,” ujar Fithra.

Di sisi lain, ketergantungan industri terhadap bahan baku dan komponen dari luar negeri membuat pelemahan rupiah berpotensi meningkatkan biaya produksi.

“Ketika dia membutuhkan input dari luar, harganya jadi semakin mahal. Jadi, ini jadi kayak vicious circle. Jadi kayak satanic loop,” tambahnya.

Karena itu, Fithra menilai Indonesia perlu memperkuat industrialisasi dan secara bertahap mengurangi ketergantungan terhadap impor dengan memproduksi sendiri barang-barang yang selama ini masih dipasok dari luar negeri.

“Hal-hal yang biasanya kita dapatkan dari luar dari sisi input, itu bisa kita produksi di sini. Nah, itu yang akan jadi roadmap,” ujarnya.

Menurut Fithra, penguatan industri juga diperlukan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih berkelanjutan sekaligus memperluas lapangan kerja formal.

Sementara itu, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada penutupan perdagangan Rabu menguat 66 poin atau 0,37 persen menjadi Rp17.818 per dolar AS, dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp17.884 per dolar AS.

Add VOI as a Preferred Source

Follow VOI news updates across Google.

+





Sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *