JAKARTA – Presiden Masoud Pezeshkian menegaskan Iran tidak akan tunduk pada tekanan, serta terbuka untuk dialog dan negosiasi, saat berpidato dalam Sesi Debat Umum Sidang Majelis Umum ke-81 PBB di markas besar PBB, New York, Hari Rabu.
Presiden Pezeshkian mengatakan Iran tidak akan menyerah pada tekanan Amerika Serikat dan membela pembatasan yang diberlakukan Tehran di Selat Hormuz, menunjukkan sikap tegas dalam pidato pertamanya di PBB sejak AS dan Israel melancarkan perang melawan Iran pada Bulan Februari.
Ia mengatakan, sanksi dan peningkatan tekanan dari Washington hanya akan memperkuat perlawanan Iran.
“(Presiden AS Donald Trump) harus tahu bahwa perlawanan rakyat Iran justru akan meningkat dalam menghadapi sanksi, peningkatan tekanan, dan intimidasi yang semakin besar. Kami tidak akan pernah menundukkan kepala atau bertekuk lutut,” ujarnya, melansir Al Arabiya (23/9)
Pernyataan tersebut disampaikan sehari setelah Presiden Trump menggunakan pidatonya di PBB untuk mengancam Iran dengan tindakan militer lebih lanjut jika kesepakatan damai tidak tercapai, sembari juga menyatakan optimisme bahwa penyelesaian diplomatik pada akhirnya dapat dicapai.
Lebih lanjut Presiden Pezeshkian juga membela sikap Tehran terkait Selat Hormuz, dengan mengatakan Iran tidak akan membiarkan jalur air strategis tersebut digunakan untuk memfasilitasi serangan terhadap negaranya.

“Kami tidak bisa membiarkan pihak tertentu memiliki akses bebas dan memperkuat kepentingan mereka melalui jalur air tersebut, sementara pada saat yang sama menggunakan jalur air itu untuk melancarkan agresi terhadap kami,” katanya.
Negeri Para Mullah sendiri telah mengisyaratkan kesediaan untuk membuka kembali jalur air tersebut jika Washington melonggarkan tekanan militer dan mencabut blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.
Ia pun menegaskan, Iran tidak memulai konflik tersebut dan tetap berkomitmen pada diplomasi meskipun pertempuran sedang berlangsung.
“Iran sama sekali bukan pihak agresor, tidak pernah memulai perang, dan selalu menunjukkan komitmennya untuk menempuh jalur perundingan,” ujarnya.
“Mereka memaksakan perang ini kepada kami, namun kami membuktikan bahwa kami tidak takut untuk bertempur,” tandasnya.
Presiden Pezeshkian juga menepis tuduhan Presiden Trump yang menyebutkan Tehran terlibat dalam terorisme, sebaliknya menggambarkan Iran sebagai pihak korban.

“Kami adalah korban terorisme,” kata Pezeshkian, seraya menyebutkan peristiwa pembunuhan mantan Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei serta serangan terhadap sebuah sekolah selama masa perang.
Presiden Pezeshkian memperlihatkan foto-foto Khamenei dan anak-anak sekolah Iran yang tewas dalam konflik tersebut saat berpidato di hadapan para pemimpin dunia.
“Kami tidak akan pernah menundukkan kepala,” ujarnya, seraya menambahkan Iran siap untuk bernegosiasi asalkan tidak disertai dengan ancaman, dikutip dari Anadolu.
Presiden Pezeshkian menyebut adanya kemunafikan yang nyata dalam fakta bahwa Israel memiliki senjata nuklir dan bukan penandatangan Traktat Non-Proliferasi Nuklir (NPT), “namun para inspektur justru diminta untuk datang ke Iran.”
“Mereka (pihak Israel) membunuh, sementara kami yang dikenai sanksi dan dihukum,” jelasnya.
“Israel telah membunuh lebih dari 70.000 orang tak berdosa di Gaza secara keji, namun Iran – bahkan saat sedang berada di meja perundingan – justru dibom,” tandasnya.
Ia pun menegaskan kembali Iran tidak sedang berupaya mengembangkan senjata nuklir, namun mengatakan negaranya memiliki hak “yang melekat” atas teknologi nuklir untuk tujuan damai.
“Kami tidak akan menundukkan kepala dan melepaskan hak yang secara inheren merupakan milik kami,” ujarnya
“Kami menyatakannya dengan jelas: Tidak ada senjata nuklir dan tidak ada pembatasan terhadap teknologi nuklir untuk tujuan damai,” tambahnya.
Add VOI as a Preferred Source
Follow VOI news updates across Google.
+
