
JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan masih bergerak volatil pada perdagangan Rabu, 23 September. Investor akan mencermati hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI), terutama keputusan mengenai suku bunga acuan di tengah tekanan terhadap rupiah dan pasar keuangan domestik.
Pada perdagangan Selasa, 22 September 2026, IHSG ditutup anjlok 1,69 persen atau 107,68 poin ke level 6.277,04. IHSG bergerak pada level tertinggi 6.423,83 dan terendah 6.258,43.
Tekanan jual juga terlihat dari mayoritas saham yang diperdagangkan. Sebanyak 533 saham melemah, 139 saham menguat, dan 118 saham stagnan. Nilai transaksi mencapai sekitar Rp14,4 triliun dengan volume perdagangan 33,68 miliar saham.
Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, M Nafan Aji Gusta, menilai pergerakan IHSG masih dipengaruhi sentimen eksternal dan domestik. Harga minyak yang berada di sekitar 100 dolar AS per barel, imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun yang mendekati 5 persen, serta sikap hawkish Federal Reserve menjadi tekanan bagi aset negara berkembang.
Di dalam negeri, pelemahan rupiah hingga kisaran Rp17.846 per dolar AS turut meningkatkan kekhawatiran investor terhadap stabilitas pasar keuangan dan arus modal asing. Investor juga cenderung mengambil sikap wait and see menjelang keputusan RDG BI pada Rabu.
Sementara itu, MNC Sekuritas melihat IHSG masih menghadapi tekanan jual. Dalam analisis teknikalnya, IHSG berpotensi menguji kembali area 6.290-6.370.
MNC Sekuritas menempatkan level support IHSG di 6.371 dan 6.279, sedangkan resistance berada di 6.585 dan 6.633. Selama IHSG mampu bertahan di atas 6.370, masih terdapat peluang indeks untuk bergerak menuju 6.541-6.581.
Analis teknikal BRI Danareksa Sekuritas Reza Diofanda juga melihat area 6.250-6.200 sebagai support penting. Sementara itu, level resistance berada di kisaran 6.370-6.410.
Tekanan terhadap IHSG juga datang dari pergerakan rupiah. Pada Selasa, rupiah berada di sekitar Rp17.850 per dolar AS. Sebelumnya, analis Doo Financial Lukman Leong memperkirakan rupiah masih berpotensi tertekan akibat kenaikan imbal hasil obligasi AS dan prospek suku bunga The Fed yang tetap tinggi.
Di sisi lain, keputusan BI menjadi katalis utama yang akan dicermati investor. Konsensus pasar mengarah pada kemungkinan BI mempertahankan BI Rate di level 5,75 persen, sembari mengoptimalkan instrumen stabilisasi nilai tukar.
Pasar juga akan mencermati sinyal BI terkait respons terhadap tekanan rupiah, kenaikan imbal hasil obligasi AS, serta perkembangan inflasi dan harga minyak global.
Dari eksternal, pergerakan bursa global masih dipengaruhi kebijakan The Fed dan perkembangan geopolitik. Pada perdagangan Selasa di Wall Street, Nasdaq mencatat rekor intraday baru seiring penguatan saham teknologi, sementara S&P 500 bergerak tipis dan Dow Jones tertekan.
Harga minyak yang masih berada di sekitar 100 dolar AS per barel juga menjadi perhatian karena berpotensi meningkatkan tekanan inflasi global.
Dengan berbagai sentimen tersebut, IHSG diperkirakan bergerak dalam rentang 6.200-6.400 pada perdagangan Rabu. Investor dapat mencermati respons pasar terhadap hasil RDG BI, pergerakan rupiah, harga minyak, serta arus dana asing sebagai penentu arah indeks selanjutnya.
Add VOI as a Preferred Source
Follow VOI news updates across Google.
+
