AS Siapkan US$5 Miliar untuk Pulihkan Energi Teluk, Delapan Negara Diminta Ikut Patungan


JAKARTA – Amerika Serikat mengusulkan pembentukan dana multinasional untuk memperbaiki fasilitas energi di kawasan Teluk yang rusak akibat perang dengan Iran. Washington berencana menyiapkan US$5 miliar dan meminta delapan negara Timur Tengah menyediakan dana dengan jumlah yang sama.

Menurut Anadolu Agency disitat Selasa, 22 September yang mengutip The Wall Street Journal, Senin, total dana yang dibidik mencapai US$10 miliar.

Delapan negara yang diajak bergabung adalah Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Qatar, Bahrain, Kuwait, Oman, Irak, dan Yordania.

Dana tersebut diberi nama Partnership for Allied Trust and Construction atau Pact. Selain untuk memperbaiki kilang, ladang minyak, dan terminal ekspor gas yang rusak, skema ini juga diarahkan membantu negara-negara kawasan mencari jalur ekspor yang tidak melewati Selat Hormuz.

Selat Hormuz merupakan jalur laut strategis yang menghubungkan kawasan Teluk dengan Laut Arab dan menjadi salah satu rute penting pengiriman minyak serta gas dunia.

Dana Pact direncanakan dikelola US Development Finance Corporation, lembaga pembiayaan pembangunan milik pemerintah AS. Selama ini, lembaga tersebut lebih banyak menjalankan proyek di negara berkembang dibandingkan negara-negara monarki kaya di kawasan Teluk.

Namun, rencana itu belum final. Pejabat AS mengatakan pembahasan masih berlangsung, ketentuan dapat berubah, dan belum ada kepastian negara-negara yang diajak akan bergabung.

Sejumlah pejabat kawasan juga mempertanyakan waktunya. Mereka menilai pembangunan kembali fasilitas energi sebelum tercapai kesepakatan damai terlalu dini karena Iran masih dapat menyerang fasilitas baru.

“Strategi ini penuh dengan risiko,” kata Bilal Saab dari perusahaan konsultan TRENDS US.

Pejabat kawasan juga menilai rencana tersebut dimaksudkan untuk menunjukkan bahwa Selat Hormuz tidak lagi terlalu menentukan sekaligus memperlihatkan barisan bersama menghadapi Teheran, menurut The Wall Street Journal.

Sejak perang berlangsung tujuh bulan, rudal dan drone Iran disebut telah menghantam puluhan kilang minyak, ladang minyak, dan terminal ekspor gas.

Serangan drone pada awal bulan ini juga melumpuhkan pipa alternatif Arab Saudi yang memungkinkan minyak dialirkan tanpa melewati Selat Hormuz.

Serangan itu membuat lebih banyak minyak mentah dialirkan melalui Selat Hormuz dan mendorong tarif kapal tanker ke rekor tertinggi.

Umer Karim, peneliti keamanan kawasan Teluk di University of Birmingham, memperingatkan skema tersebut dapat membuat sebagian negara peserta bergantung pada negara lain dan berpotensi menekan hubungan bilateral.

Biaya untuk memperbaiki fasilitas energi yang rusak diperkirakan mencapai puluhan miliar dolar AS, menurut The Wall Street Journal.

Add VOI as a Preferred Source

Follow VOI news updates across Google.

+





Sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *