Indonesia Belajar dari Grand Egyptian Museum, Dibangun dengan Biaya 1,2 Miliar Dolar AS


KAIRO – Indonesia mempelajari pengelolaan Grand Egyptian Museum atau GEM di Kairo sebagai rujukan transformasi museum modern. Perhatian tidak hanya tertuju pada koleksi, tetapi juga tata kelola, konservasi, teknologi, pembiayaan, keamanan, hingga efisiensi energi.

Menteri Kebudayaan Fadli Zon membahas hal itu saat bertemu CEO Grand Egyptian Museum Authority Prof. Dr. Ahmed Ghoneim di Kairo, 21 September 2026.

“Indonesia sedang mengembangkan museum-museum modern. Karena itu, kami ingin belajar dari Grand Egyptian Museum, terutama mengenai bagaimana museum dengan koleksi yang sangat besar dapat dikelola secara profesional, modern, menarik bagi masyarakat, sekaligus memiliki posisi di tingkat internasional,” kata Fadli.

Dalam pertemuan itu disebutkan biaya pembangunan GEM mencapai sekitar 1,2 miliar dolar AS hingga sebelum museum dibuka. Museum tersebut juga disebut mampu menghasilkan keuntungan sekitar 15 juta dolar AS per tahun.

Fadli mengatakan pengalaman GEM relevan bagi Indonesia karena modernisasi museum tidak cukup hanya mengandalkan bangunan dan koleksi. Pengelolaan koleksi, konservasi, kurasi, pengalaman pengunjung, teknologi, fasilitas, serta pembiayaan berkelanjutan juga menjadi bagian penting.

Ahmed menjelaskan GEM dikembangkan dengan tiga fungsi utama, yakni Egyptology and Research, Global Tourism and Heritage, serta Cultural Communication.

Fungsi pertama menempatkan museum sebagai pusat penelitian dan pengembangan pengetahuan tentang peradaban Mesir. Fungsi kedua menghubungkan museum dengan pariwisata dan warisan budaya global. Sementara fungsi ketiga menjadikan museum sebagai ruang komunikasi budaya dengan masyarakat internasional.

Aspek efisiensi energi juga menjadi perhatian. GEM memanfaatkan energi surya serta berupaya menekan konsumsi energi melalui sistem pendingin udara dan pencahayaan yang lebih efisien.

Pembahasan juga menyentuh soal artefak Mesir yang berada di luar negeri, termasuk persoalan asal-usul artefak, legalitas kepemilikan, serta kemungkinan pengembalian ke negara asal.

Menurut Ahmed, pengembalian artefak merupakan persoalan yang melibatkan pemerintah dan kementerian terkait.

“Kita bisa melihat bahwa museum modern membutuhkan lebih dari sekadar bangunan dan koleksi. Ada tata kelola, penelitian, konservasi, teknologi, sumber daya manusia, pembiayaan, efisiensi energi, dan yang paling penting adalah bagaimana museum memberikan pengalaman dan pengetahuan kepada masyarakat,” ujar Fadli.

Ia menilai Indonesia memiliki potensi besar mengembangkan museum sebagai ruang yang menghubungkan warisan budaya, pendidikan, ilmu pengetahuan, pariwisata, dan masyarakat.

Add VOI as a Preferred Source

Follow VOI news updates across Google.

+





Sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *