JAKARTA – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengungkapkan capaian positif dari penataan tata niaga sektor pertambangan mineral dan batu bara (minerba).
Menurutnya, dengan pengajuan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) yang makin diperketat, pendapatan negara meningkat meskipun volume produksi batu bara tercatat tidak sebanyak tahun sebelumnya.
“Laporan dari Dirjen Minerba kepada saya, produksi batu bara itu tidak sebanyak di tahun-tahun sebelumnya, tetapi PNBP-nya (Penerimaan Negara Bukan Pajak) lebih tinggi dibandingkan dengan sebelumnya,” ujar Bahlil saat ditemui di Balai Sudirman, Senin, 21 September.
Ketua Umum Partai Golkar ini menyebut, strategi pemerintah saat ini bergeser dari sekadar mengejar volume produksi yang masif menuju optimalisasi nilai tambah dan pendapatan bagi negara.
Melalui kontrol penataan yang ketat, lanjut dia, komoditas nasional seperti batu bara dan nikel kini tidak lagi menjadi komoditas yang harganya mudah dipermainkan secara leluasa oleh oknum-oknum tertentu atau pihak luar negeri.
“Harga nikel ditentukan oleh luar. Harga batu bara ditentukan oleh luar. Sekarang baru mulai kita tata. Alhamdulillah, dengan penataan terhadap pengaturan supply and demand, harga batu bara Indonesia sekarang sudah mulai ada marwahnya di mata internasional,” beber dia.
Bahlil menegaskan, tujuan utama kebijakan penataan ini adalah memastikan kekayaan alam Indonesia memberikan manfaat maksimal bagi keuangan negara.
“kita pengen produksinya tidak terlalu banyak, tapi pendapatan negara itu yang paling penting,” tandas Bahlil.
Berdasarkan data Direktorat Jenderal Mineral dan Batu Bara (Minerba), hingga Agustus 2026, PNBP sektor minerba mencapai Rp108,13 triliun, sementara capaian PNBP sepanjang tahun 2025 mencapai Rp135,16 triliun.
Add VOI as a Preferred Source
Follow VOI news updates across Google.
+
