JAKARTA — Ajang tahunan bergengsi besutan siswa SMA Kolese Gonzaga, Gonzaga Festival (Gonzfest) 2026, resmi bergulir.
Agenda ini menggabungkan dinamika seni, olahraga, dan kompetisi antarpelajar, gelaran tahun ini hadir lebih dari sekadar pentas hiburan anak muda, melainkan sebuah refleksi tentang perjuangan hidup dan pembentukan karakter generasi penerus.
Mengangkat tema “Menembus Rintangan, Mengejar Harapan”, Gonzfest 2026 membawa simbol perjuangan koboi yang bertahan melintasi kerasnya padang gurun pasir.
Pater Eduardo Calistus Radityo, S.J., menegaskan bahwa analogi koboi di padang pasir sengaja dipilih oleh para siswa bukan demi mengintroduksi budaya barat, melainkan menyerap filosofi daya juang (survival) yang relevan dengan tantangan pendidikan saat ini, termasuk maraknya arus Artificial Intelligence (AI).
“Pertanyaannya, masih butuhkah institusi pendidikan jika semua informasi sudah tersampaikan dalam aplikasi berbasis AI? Bagi kami, AI tetap instrumen. Kuncinya ada pada daya pikir dan imajinasi manusia yang kuat agar tidak menjadi budak sarana,” ujar Pater Edu di kawasan Jakarta Selatan, Sabtu, 19 September.
“Di balik hiburan ini, terselip pesan pendidikan. Kami memegang prinsip yaitu belajar untuk hidup, bukan hidup untuk sekadar mengejar angka rapor. Event ini menjadi wadah melatih servant leadership, nurani, dan integritas,” lanjutnya.
Semangat tersebut diamini langsung oleh Ketua Panitia Siswa Gonzaga Festival 2026, Kenneth Albert Ghozali. Baginya, tema yang diusung berangkat dari kesadaran nyata siswa dalam menghadapi dinamika harian.
“Setiap hari pasti ada rintangan yang harus dihadapi. Justru rintangan itulah yang mendekatkan kita pada apa yang kita cita-citakan,” tutur Kenneth.
Kenneth menambahkan, panggung festival ini bukan semata ajang unjuk gigi internal sekolah, melainkan ruang berbagi energi positif bagi publik.
“Di Gonzaga, sekolah sangat mendukung talenta murid. Melalui Gonzfest, bakat-bakat ini tidak hanya dinikmati sendiri, tetapi kami bagikan untuk memberikan kebahagiaan bagi sekolah lain dan masyarakat luas,” tambahnya.
Hal senada diungkapkan Ketua Senat SMA Kolese Gonzaga, Theodorus Fritz Lievel. Ia menyebut pengalaman memimpin kepanitiaan berskala besar melatih siswa menghidupi nilai kepemimpinan yang melayani (servant leader).
Festival tahunan ini turut menuai apresiasi dari para figur publik dan orang tua murid yang hadir. Brand activist Arto Biantoro menilai Gonzaga sukses membangun identitas sekolah yang hidup lewat pengelolaan pengalaman para siswanya.
“Kegiatan di Gonzaga memang super padat, anak-anak pulang malam bahkan menginap, tapi mereka meresponsnya dengan kebahagiaan luar biasa. Ini bukan hanya bicara brand atau nilai akademik di atas kertas, tapi bagaimana sekolah mengelola pengalaman anak untuk benar-benar merasakan dan siap menghadapi kehidupan,” papar Arto.
Rasa bangga juga disampaikan oleh influencer sekaligus pengusaha Jennifer Majidi. Ibu yang mempercayakan keempat anaknya menempuh pendidikan di sekolah ini mengaku terharu melihat dedikasi para pelajar di balik layar.
“Saya bangga sekali melihat anak-anak berproses. Mereka belajar bekerja sama sebagai panitia, peserta, sekaligus mengayomi kawan-kawan dari sekolah lain yang bertanding. Luar biasa perjuangan guru dan siswa yang tak kenal lelah merawat tradisi festival ini,” ungkap Jennifer.
Dukungan penuh turut mengalir dari Ketua Yayasan Wacana Bhakti, Pater Josephus Darminta, S.J. (Pater Jo), serta Ikatan Alumni Gonzaga (Ikagona) yang dipimpin oleh Ariston. Menurut Pater Jo, perhelatan ini menjadi laboratorium nyata bagi siswa untuk menghidupi semboyan men and women for and with others.
“Di festival ini, anak-anak berlatih menjadi tuan rumah yang baik. Menyambut dan melayani setiap tamu maupun peserta lomba dari tempat lain selayaknya saudara sendiri,” pungkas Pater Jo.
Gonzaga Festival sendiri berlangsung pada 18 September hingga 26 September. Pada puncak acara akan tampil Yura Yunita dan Sal Priadi sebagai penutupan acara tahunan ini.
Add VOI as a Preferred Source
Follow VOI news updates across Google.
+
