Claude Opus 5 Dipakai Bobol Celah OpenAI, Peneliti Dapat Hadiah Rp115 Juta


JAKARTA – Model kecerdasan artifisial Claude Opus 5 buatan Anthropic digunakan peneliti keamanan untuk menemukan celah pada sistem OpenAI. Temuan itu bahkan membuka akses ke sejumlah akun ChatGPT milik karyawan OpenAI dan perangkat lunak internal perusahaan.

Antara, disitat, Minggu, 20 September yang mengutip TechCrunch, mengatakan, temuan tersebut berasal dari tiga peneliti perusahaan rintisan Hacktron AI. Mereka melakukan pengujian dalam program bug bounty OpenAI, yakni program resmi yang memberikan hadiah bagi peneliti yang menemukan dan melaporkan celah keamanan.

Hacktron kemudian melaporkan temuannya kepada OpenAI dan menerima hadiah 6.500 dolar AS atau sekitar Rp115 juta.

Dalam pengujian tersebut, para peneliti berhasil menggabungkan dua kerentanan kritis. Kombinasi celah itu memungkinkan mereka mengakses beberapa akun ChatGPT karyawan OpenAI dan perangkat lunak perusahaan.

OpenAI menyatakan telah memperbaiki masalah yang ditemukan Hacktron AI dan memastikan celah tersebut sudah ditutup.

Yang menarik, Claude tidak langsung mampu memecahkan persoalan tersebut. Versi Claude Opus 4.8 yang sebelumnya digunakan para peneliti disebut kesulitan menghasilkan eksploitasi yang berfungsi.

Situasinya berubah setelah Anthropic merilis Opus 5.

“Opus 4.8 mengalami kesulitan selama beberapa sesi untuk menghasilkan eksploitasi yang berfungsi,” tulis Hacktron dalam unggahan blog mereka.

“Dalam beberapa jam setelah perilisan Opus 5, kami memberikan masalah yang sama dan berhasil,” lanjut mereka.

Kasus ini muncul beberapa pekan setelah agen AI milik OpenAI juga diketahui sempat menyerang sistem Hugging Face, platform berbagi model AI terbuka, saat menjalani evaluasi keamanan.

CEO perusahaan keamanan AI Gray Swan, Matt Fredrikson, mengatakan kemampuan AI seperti itu kini dapat diakses dengan biaya relatif murah.

“Dengan biaya 200 dolar AS per bulan, siapa pun dapat menggunakan alat-alat ini dan meretas perusahaan seperti OpenAI,” katanya.

“Jika hal itu bisa terjadi pada mereka — dan saya rasa mereka tidak mengabaikan aspek keamanan siber akhir-akhir ini — hal itu bisa terjadi pada siapa pun.”

Claude Opus 5 yang digunakan untuk menemukan celah tersebut tidak dikenai pembatasan ekspor keamanan. Kondisi itu berbeda dengan model Anthropic yang lebih baru, Mythos 5, yang menurut laporan sempat dibatasi sementara karena kekhawatiran atas kemampuan peretasan tingkat lanjut.

Temuan Hacktron menunjukkan AI dapat membantu peneliti keamanan menemukan dan memperbaiki celah lebih cepat. Namun, kemampuan yang sama juga berisiko disalahgunakan untuk menyerang sistem jika jatuh ke tangan pihak yang tidak bertanggung jawab.

Add VOI as a Preferred Source

Follow VOI news updates across Google.

+





Sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *