JAKARTA – Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mendorong pemerintah melakukan penelusuran terhadap daerah yang mengalami lonjakan kasus influenza sekaligus memetakan pola penyebaran virus tersebut.
“Kami merasa perlu untuk mengetahui lebih jauh mengenai adanya lonjakan kasus dan kasus-kasus influenza, terutama influenza A yang tentunya berbahaya pada sebagian kelompok berisiko,” kata Sekretaris Umum IDAI Dr. Dr. Hikari Ambara Sjakti, Sp.A, Subsp. H. Onk (K), dalam diskusi daring di Jakarta, dikutip Antara, Sabtu, 19 September.
Menanggapi isu kenaikan kasus influenza di berbagai wilayah Indonesia, Hikari mengatakan berdasarkan pemantauannya memang terjadi peningkatan kasus di sejumlah ruang perawatan anak di rumah sakit di kota-kota besar. Namun, ia tidak menyebutkan lokasi maupun jumlah kasus secara spesifik.
Menurut Hikari, pemetaan tersebut penting untuk membantu tenaga medis memberikan penanganan yang tepat berdasarkan gejala dan tingkat keparahan pasien.
Terlebih, influenza merupakan salah satu penyakit yang perlu mendapat perhatian karena dapat menimbulkan komplikasi serius, terutama pada anak-anak yang termasuk kelompok rentan.
Kasus Influenza di Sejumlah Negara Asia Tenggara Naik
Anggota Unit Kerja Koordinasi (UKK) Infeksi Penyakit Tropik IDAI Prof. Dr. Dr. Anggraini Alam, Sp.A, Subsp. IPT(K), mengatakan berdasarkan data Kantor Regional WHO untuk Pasifik Barat (WHO WPRO) per 10 September 2026, sejumlah negara di Asia Tenggara mengalami peningkatan kasus influenza.
Anggraini menyebutkan, tingkat positif influenza di Singapura berfluktuasi antara 24 hingga 37 persen dalam beberapa pekan terakhir. Kondisi tersebut juga disertai tingginya kasus positif COVID-19.
“Kita tahu bahwa orang-orang yang bekerja di perkotaan memerlukan perjalanan bisnis ke Singapura, sehingga itu jadi penyebab lonjakan seluruhnya,” kata Anggraini.
Di Brunei Darussalam, tingkat positif influenza mencapai 28 persen, meningkat dari sebelumnya sekitar 12 persen. Sementara di Malaysia, tingkat positif influenza dalam beberapa pekan terakhir berada di kisaran 19 hingga 20 persen.
Adapun di Vietnam, tingkat positif influenza meningkat dari 7 persen menjadi 20 persen.
Meski terjadi peningkatan kasus di sejumlah negara Asia Tenggara, Anggraini mengatakan sejauh ini belum terdapat lonjakan kasus influenza yang mengkhawatirkan di Indonesia berdasarkan data Kementerian Kesehatan.
“Dibandingkan September 2026 dengan September tahun lalu memang kami tidak melihat adanya suatu lonjakan yang tinggi sebagaimana yang diperlihatkan oleh negara tetangga kita,” katanya.
Anak Jadi Kelompok Rentan
Meski demikian, Anggraini mengimbau masyarakat tetap meningkatkan kewaspadaan, terutama terhadap anak-anak. Menurut dia, Indonesia memiliki sejumlah bandara yang menjadi pintu masuk dan tempat bertemunya masyarakat dari berbagai belahan dunia sehingga risiko penyebaran virus perlu diantisipasi.
Ia mengatakan anak-anak termasuk kelompok rentan karena angka kejadian influenza pada anak masih lebih tinggi dibandingkan kelompok usia dewasa.
Sebanyak 5 persen anak yang terkena influenza memerlukan perawatan di rumah sakit. Dari 80 persen kasus yang ditemukan pada anak, sebagian besar terjadi pada kelompok usia di bawah dua tahun, dengan 50 persen di antaranya berusia kurang dari enam bulan.
Anggraini juga menyebutkan anak berusia di bawah lima tahun memiliki risiko kematian yang lebih tinggi akibat influenza.
Add VOI as a Preferred Source
Follow VOI news updates across Google.
+
