Radio 90-an Siapkan Festival Musik, Hadirkan Nostalgia Era Keemasan


JAKARTA – Tren festival musik di tanah air kian menjamur dalam beberapa tahun terakhir. Menjawab antusiasme tersebut, penggagas platform Radio 90-an, platform yang kembali mengangkat masa keemasan musik di tahun 90-an, Joana Kania mengaku tengah mempersiapkan festival musik khusus yang mengusung atmosfer dan memori autentik era 1990-an.

Joana menegaskan, festival yang dirancangnya bakal menyajikan pengalaman yang benar-benar fokus pada satu dekade tersebut, tanpa bercampur dengan konsep lintas generasi seperti festival-festival besar lainnya.

“Festival musik yang pasti enggak tercampur sama nuansa yang lain-lain, memang kita fokus sama 90-an, gitu,” ujar Joana Kania di kawasan Jakarta Selatan, Rabu, 16 September.

Ia menyadari bahwa panggung musik saat ini sudah diramaikan oleh festival populer seperti Synchronize Fest hingga Pestapora. Karena itu, Joana berjanji akan mengemas acaranya dengan suguhan yang kontras dan segar bagi para penikmat musik.

“Tentunya kita nanti mengemasnya itu berbeda dengan yang lain, enggak sama dengan Pestapora dan Synchronize. Karena ‘kan harus ada perbedaannya, dong, gitu. Kita bikin sesuatu kalau masih sama juga konsepnya, ya sama aja. Kita cari sesuatu yang berbeda,” tuturnya.

Bagi Joana, nilai jual utama dari festival ini adalah rekonstruksi memori emosional era 90-an, termasuk peristiwa-peristiwa penting yang melingkupinya pada masa itu.

“Makanya di sini aku membangkitkan kenangan, momen, apa yang sekiranya bisa kita angkat dari apa yang terjadi di tahun 90-an termasuk perang sebelum kerusuhan, itu ‘kan banyak. Banyak hal-hal yang ya positif negatif lah yang kita bisa ambil dari situ,” jelasnya.

Menanggapi fenomena banyaknya musisi muda masa kini yang membawakan musik bernuansa retro—seperti Diskoria hingga The Lantis—Joana mengaku tidak menutup pintu. Pihaknya bersikap fleksibel dan berbasis riset dalam mengurasi penampil.

“Sebenarnya kita juga enggak mau terlalu idealis. Kita juga ‘kan riset by data juga, nuansanya, ya ‘kan. Dari nuansanya sampai ke dalam isian liriknya, gitu. Ya kita bisa juga gandeng pendatang-pendatang baru memang yang menghadirkan 90-an,” beber Joana.

Langkah merangkul musisi baru beraliran retro tersebut diambil demi menjembatani generasi muda agar kembali melirik dan mengingat karya-karya terbaik di masa lampau.

“Karena memang targetnya kita memang mau naikin lagi tuh effort orang untuk mengingat,” imbuhnya.

Menutup keterangannya, Joana menegaskan alasannya memilih dekade 1990-an sebagai fokus utama festivalnya, bukan era 80-an ataupun 2000-an. Menurutnya, dekade tersebut merupakan puncak masa keemasan industri musik tanah air.

“Menurut aku dan beberapa teman aku yang ada di bidang musik juga, ada di industri, masa kejayaan Indonesia soal musik itu memang di era 90. Makanya kenapa kita memilih Radio 90-an, tidak di Radio 80-an atau 2000-an, belum, gitu. Tapi kita bikin yang versi 90-annya karena ya itu memang golden memory banget udah, itu enggak tergantikan,” pungkas Joana.

Add VOI as a Preferred Source

Follow VOI news updates across Google.

+





Sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *