JAKARTA – Tak sempat rutin berolahraga bukan berarti upaya mengatur berat badan harus berhenti. Para ahli menyebut pola makan justru berperan lebih besar dalam penurunan berat badan.
USA TODAY dikutip Rabu, 26 Agustus, melaporkan, olahraga tetap penting untuk kesehatan. Namun, apa yang dimakan, seberapa banyak porsinya, dan apakah tubuh berada dalam kondisi defisit kalori biasanya lebih berpengaruh terhadap angka di timbangan.
Dr. Michael Fredericson dari Stanford Medicine mengatakan seseorang tidak bisa “mengalahkan pola makan yang tidak sehat hanya dengan olahraga”.
Contohnya cukup sederhana. Satu paket Big Mac dengan kentang goreng dan Coca-Cola ukuran sedang mengandung sekitar 1.170 kalori. Sementara orang dengan berat sekitar 70 kilogram yang berlari selama satu jam membakar sekitar 590 kalori.
“Jauh lebih mudah mengurangi 500 kalori melalui pilihan makanan daripada membakar 500 kalori lewat olahraga,” kata ahli gizi Lisa Young dari New York University.
Menurut Young, penurunan berat badan pada akhirnya bergantung pada defisit kalori, yakni kondisi ketika kalori yang masuk lebih sedikit daripada yang digunakan tubuh.
Bagi orang yang tidak sempat melakukan olahraga formal, ia menyarankan mengurangi porsi makan, memilih makanan kaya gizi, membatasi camilan dan minuman manis, serta lebih memperhatikan kebiasaan makan.
Makanan tinggi serat seperti sayuran, buah, kacang-kacangan, dan biji-bijian utuh, ditambah protein tanpa lemak, juga dapat membantu membuat kenyang lebih lama.
Young menyarankan tidak melewatkan waktu makan karena kebiasaan itu dapat memicu makan berlebihan di kemudian hari.
Fredericson juga menyarankan menggunakan piring lebih kecil, tidak makan langsung dari kemasan, mengunyah lebih perlahan, dan mengurangi gangguan seperti menonton layar saat makan.
Kualitas makanan ikut berpengaruh. Berbagai penelitian mengaitkan konsumsi tinggi makanan ultra-proses dengan risiko obesitas yang lebih besar karena jenis makanan ini cenderung tinggi kalori, kurang mengenyangkan, dan lebih mudah dikonsumsi berlebihan.
Meski begitu, olahraga tetap penting dan membantu pengelolaan berat badan.
Penelitian yang dikutip USA TODAY menunjukkan penambahan olahraga pada perubahan pola makan dapat meningkatkan penurunan berat badan sekitar 20 persen dibandingkan hanya mengandalkan pola makan.
Manfaat aktivitas fisik juga lebih luas. Olahraga teratur membantu kesehatan jantung, kontrol gula darah, kepadatan tulang, suasana hati, kualitas tidur, serta menurunkan risiko sejumlah penyakit kronis.
Olahraga pun tidak harus selalu dilakukan di pusat kebugaran. Fredericson menyebut berjalan cepat, berkebun, bersepeda, latihan menggunakan berat badan sendiri, hingga memarkir kendaraan lebih jauh dari pintu masuk toko sebagai pilihan sederhana.
Bahkan, menurut Fredericson, aktivitas berat singkat selama satu hingga dua menit seperti naik tangga atau membawa belanjaan berat juga dapat memberi manfaat bagi kesehatan.
Add VOI as a Preferred Source
Follow VOI news updates across Google.
+
