Sienna Spiro Jadikan Album Debut Visitor sebagai Perayaan Ketidaksempurnaan Hidup


JAKARTA – Musisi muda asal Inggris, Sienna Spiro, resmi melepas album studio perdananya yang bertajuk “Visitor” melalui label Capitol Records.

Dalam proses penggarapan album Visitor, Spiro bekerja sama dengan produser Omer Fedi untuk mengasah kejujuran dalam menyampaikan pesan lagu tanpa bernyanyi secara berlebihan. Spiro menekankan bahwa menahan diri dan bernyanyi dengan penuh penghayatan kerap kali menjadi bentuk penyampaian paling kuat dalam bermusik.

Adapun album “Visitor” merangkum refleksi Spiro mengenai ketidakabadian, kesehatan mental sebagai seorang neurodivergent, serta dinamika kehidupan pada usia 20 tahun.

Lewat karya ini, ia berusaha memeluk ketidakabadian hidup dan menuangkannya ke dalam wujud media fisik piringan hitam yang nyata di tengah gempuran era digital.

“Menjadi usia 20 tahun itu rumit, titik. Semua orang berjuang. Namun di industri ini, entah mengapa terasa menyenangkan menjadi sangat muda. Anda dihadapkan pada situasi sulit di mana Anda harus bersikap dewasa dan mengambil keputusan hidup, sembari memastikan Anda tetap menjadi jiwa muda untuk terus belajar dan berkembang,” tutur Spiro, dikutip Variety, Jumat, 7 Agustus.

Dengan album baru, penyanyi 20 tahun yang dikenal lewat gaya rambut khas era 1960-an dan karakter vokal smoky itu kini menjadi salah satu kandidat terkuat dalam bursa nominasi Penyanyi Pendatang Baru Terbaik (Best New Artist) di ajang Grammy Awards mendatang.

Adapun popularitas Spiro melesat pesat berkat sederet single yang sukses menembus tangga lagu, seperti “Die on This Hill” yang masuk posisi 20 besar di Amerika Serikat serta 10 besar di Inggris.

Tak berhenti sampai di sana, tiket tur konsernya di wilayah Amerika Utara yang akan datang dilaporkan telah habis terjual sebelum album resminya diluncurkan.

Dampak musikalitas Spiro juga terlihat pada ajang pencarian bakat seperti American Idol, di mana karya-karyanya seperti “Maybe” kerap dibawakan oleh para peserta saat audisi.

“Setiap kali mendengar seseorang melakukan itu, rasanya sangat gila bagi saya. Ketika masih kecil, saya dan adik perempuan saya biasa bersandiwara melakukan audisi Britain’s Got Talent di kamar tidur ibu saya,” kata Spiro.

Secara musikalitas dan gaya busana, Spiro kerap disandingkan dengan Adele, Frank Sinatra, hingga persona Twiggy dan The Ronettes.

Ia pun mengaku sengaja memilih bergabung dengan Capitol Records agar logo ikonik label tersebut tercetak di album piringan hitamnya, persis seperti rilisan klasik milik Frank Sinatra.

Lebih lanjut di balik performa vokalnya yang berkarakter, Spiro mengungkap bahwa ia memiliki kondisi nodul pita suara sejak kecil. Kondisi tersebut sempat membuatnya hampir kehilangan suara selama setahun penuh sebelum akhirnya pulih kembali.

“Nodul pita suara ini adalah berkah sekaligus kutukan. Saya menyukai tekstur yang diberikan pada vokal saya, tetapi saya hampir membisu selama satu tahun sebelum tahun lalu. Itu sangat rumit dan mengisolasi,” tandasnya.

Add VOI as a Preferred Source

Follow VOI news updates across Google.

+





Sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *