JAKARTA – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menegaskan operasi modifikasi cuaca tidak dapat dilakukan dengan pola yang sama di seluruh Indonesia. Penyebabnya, Indonesia memiliki 699 zona musim dengan karakteristik hujan yang berbeda-beda.
Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani mengatakan setiap operasi modifikasi cuaca harus didasarkan pada kajian ilmiah, bukan sekadar melihat musim kemarau secara umum.
“Indonesia dibagi dalam 699 zona musim. Satu daerah tidak sama dengan daerah lain, pola hujannya juga tidak sama,” kata Faisal usai rapat bersama Presiden Prabowo Subianto di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa, 28 Juli.
Menurut Faisal, terdapat wilayah yang hanya mengenal satu musim sehingga tetap menerima curah hujan tinggi meski daerah lain sedang mengalami kemarau. Kondisi itu terjadi antara lain di bagian barat Bukit Barisan, sebagian wilayah utara Kalimantan, dan sebagian besar Papua.
Sebaliknya, ada pula daerah yang memiliki pola musim berlawanan dengan wilayah lain. Saat sebagian besar Indonesia memasuki musim kemarau, sejumlah kawasan di Maluku justru mengalami musim hujan.
Karena itu, BMKG menilai operasi modifikasi cuaca harus disesuaikan dengan kondisi masing-masing daerah. Penentuan lokasi juga mempertimbangkan kondisi 240 waduk yang menjadi sumber air untuk irigasi, pembangkit listrik tenaga air, dan kebutuhan masyarakat.
Faisal menegaskan setiap operasi dilakukan berdasarkan analisis ilmiah dan menggunakan bahan semai alami sehingga tidak membahayakan lingkungan.
Add VOI as a Preferred Source
Follow VOI news updates across Google.
+
