JAKARTA – Perjalanan dan fenomena mobilitas masyarakat Indonesia selalu menyimpan cerita unik, terutama saat memasuki momen-momen istimewa seperti bulan suci Ramadan hingga tradisi tahunan Mudik Lebaran.
Hal ini turut menjadi perhatian bagi banyak brand dalam membuat satu program yang lekat dengan kehidupan masyarakat.
Sebagaimana disorot dalam Laporan Nielsen Marketing ROI Blueprint, tak sedikit perhatian dari sejumlah brand dalam kampanye mereka tertuju pada tradisi lokal, rutinitas dan momen budaya tersebut hingga membentuk pola interaksi baru di ruang publik maupun aplikasi digital.
Di saat mudik misalnya, jutaan orang bersiap pulang ke kampung halaman, jalanan menjadi ruang interaksi yang hidup dan dinamis.
Durasi perjalanan yang kerap memanjang akibat kepadatan lalu lintas menciptakan kondisi fisik dan emosional tersendiri bagi para pemudik.
Di titik-titik inilah muncul fenomena menarik di mana kesegaran fisik menjadi kebutuhan utama di tengah perjalanan panjang.
Penetrasi teknologi berbasis lokasi kini memungkinkan titik-titik interaksi langsung hadir menyapa masyarakat di area yang membutuhkan penawar dahaga atau yang sering disebut sebagai “zona dahaga”.
“Mudik merupakan salah satu momen paling bermakna di Indonesia, sehingga menjadi kesempatan yang sangat relevan bagi kami untuk terhubung dengan konsumen yang mencari kesegaran di sepanjang perjalanan mereka.”
“Hasil kampanye kami menunjukkan bagaimana pendekatan berbasis lokasi yang dipadukan dengan integrasi online-to-offline dapat memperkuat relevansi SPRITE, mendorong product trial, serta memberikan dampak bisnis yang terukur,” demikian ungkap Andes Gumilang Hadisucipto, Director Sparkling Flavours, PT Coca-Cola Indonesia dalam keterangan pers GrabAds kepada VOI, Minggu, 26 Juli.
Tidak hanya dalam konteks perjalanan jauh, perubahan ritme harian juga sangat terasa pada bulan suci Ramadan.
Rutinitas sahur, terutama bagi para pekerja malam dan mereka yang aktif beraktivitas hingga dini hari, menuntut kesiapan kondisi tubuh yang prima.
Kebiasaan mengonsumsi asupan yang ringkas namun bernutrisi kini telah menyatu dengan gaya hidup modern selama bulan puasa.

Dinamika ini memperlihatkan betapa momen sahur bukan lagi sekadar ritual makan dini hari, melainkan titik krusial dalam menjaga ritme energi harian masyarakat.
“Seperti halnya kampanye ‘1 Kaleng Saat Sahur’ dari merek susu steril Bear Brand lahir dari sebuah insight sederhana bahwa sahur adalah momen penting dalam rutinitas masyarakat selama Ramadan. Pencapaian itu membuktikan pesan yang dekat dengan kebiasaan konsumen dapat mendorong hubungan yang lebih kuat dengan brand sekaligus mendukung pertumbuhan bisnis nyata,” papar Theresia Magdalena Silaban, VP – Category Marketing Manager, Nestlé.
Demikian pula hadirnya armada transportasi digital, hiasan ikon khusus pada aplikasi pemetaan digital, serta beragam notifikasi interaktif menjadikan momen pergerakan masyarakat terasa lebih terkoneksi.
Penyesuaian layanan digital dengan momentum lokal terbukti mampu menjangkau jutaan masyarakat secara lebih intim, mengubah momen perjalanan pasif menjadi pengalaman yang interaktif dan menyenangkan.
“Keberhasilan kampanye bersama dua merek tersebut menunjukkan bagaimana brand dapat mengubah momen budaya menjadi dampak bisnis yang lebih terukur. Melalui GrabAds, kami membantu brand menghubungkan consumer insight, kekuatan media, mobilitas, dan jalur pembelian dalam satu ekosistem yang terintegrasi. Dengan demikian, kampanye tidak hanya berhenti pada awareness, tetapi juga dapat mendorong trial, transaksi, dan pertumbuhan yang lebih nyata,” jelas Roy Nugroho, Director of Commercial Grab Indonesia.
Sinergi erat antara pemahaman insight lokal dan ekosistem mobilitas digital ini berhasil mencuri perhatian di tingkat regional. Pada ajang The Drum Awards for Marketing APAC 2026, perwakilan dari Indonesia berhasil menorehkan prestasi gemilang, berkontribusi pada total 26 kemenangan yang diraih oleh ekosistem GrabAds di berbagai negara Asia Pasifik seperti Thailand, Vietnam, Indonesia, dan Filipina.
Kesuksesan kampanye jenama serta fenomena di masyarakat memperlihatkan perubahan cara pandang masyarakat terhadap ruang publik dan aplikasi digital.
Di saat teknologi mampu beradaptasi secara mulus dengan kebiasaan, ritme sahur, hingga tradisi mudik, batas antara aktivitas fisik dan pengalaman digital menjadi semakin padu, menciptakan keselarasan harmoni antara kebiasaan budaya lokal dan gaya hidup modern.
Add VOI as a Preferred Source
Follow VOI news updates across Google.
+
