JAKARTA – Hubungan bilateral antara Indonesia dan Republik Rakyat China/Tiongkok (RRC/RRT) terus mengalami penguatan melalui kerja sama di berbagai sektor strategis, meliputi perdagangan, investasi, industri, ekonomi digital, hingga teknologi.
Serangkaian pertemuan yang berlangsung dalam beberapa waktu terakhir menjadi langkah penting untuk memperluas kolaborasi sekaligus memperkokoh kemitraan ekonomi yang memberikan manfaat bagi kedua negara.
Dalam rangka mempererat hubungan tersebut, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto sebelumnya menerima kunjungan Wakil Gubernur Provinsi Fujian bersama delegasi pelaku usaha Tiongkok dalam kerangka kerja sama Two Countries Twin Parks (TCTP) dan pertemuan ini mencerminkan besarnya minat investor Tiongkok untuk memperluas investasinya di Indonesia.
Sebelumnya, pada 16 Juli 2026 di Shanghai, Airlangga juga menandatangani Deklarasi World Artificial Intelligence Cooperation Organization (WAICO), yang menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara pendiri organisasi kerja sama kecerdasan buatan tingkat global tersebut.
“Laporan dari perusahaan agensi Jepang, JETRO, menyampaikan bahwa perusahaan asing yang investasi di Indonesia potensi mengalami atau mendapat keuntungan besarnya 70 persen. Jadi lebih banyak untung daripada yang tidak untung,” jelas Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dalam acara Kunjungan Kehormatan Delegasi Bisnis RRT serta Dubes RI Untuk RRT, dikutip Jumat 24 Juli.
Di bidang perdagangan, Indonesia dan Tiongkok telah terikat dalam sejumlah perjanjian penting, di antaranya ASEAN-China Free Trade Area (ACFTA) yang berlaku sejak 2010 dan Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP) yang mulai efektif pada 2022.
Didukung implementasi kedua perjanjian tersebut, nilai perdagangan bilateral terus menunjukkan pertumbuhan yang positif, yaitu berdasarkan data Indonesia, nilai perdagangan kedua negara mencapai sekitar 154 miliar dolar AS, sedangkan menurut data Tiongkok nilainya sekitar 160 miliar dolar AS dengan komoditas ekspor utama Indonesia ke Tiongkok meliputi ferroalloy, nikel matte, lignit, batu bara, dan minyak sawit.
Selain sebagai mitra dagang utama, Tiongkok juga menjadi salah satu sumber investasi terbesar bagi Indonesia dengan kontribusi yang terus meningkat pada berbagai sektor strategis.
Untuk mempercepat realisasi investasi, Pemerintah Indonesia menyediakan berbagai insentif fiskal yang kompetitif, seperti fasilitas tax holiday hingga 100 persen sesuai kriteria investasi, tax allowance, investment allowance, serta super tax deduction yang bertujuan mendorong investasi, inovasi, dan pengembangan sumber daya manusia.
“Kita terbuka untuk bekerja sama dengan partner global termasuk China, baik itu untuk trade investment maupun di sektor jasa maupun di sektor pendidikan. Dan saya mengundang bisnis pemusaha dari China untuk melanjutkan investasi di Indonesia terutama terhadap sektor yang mempunyai nilai tambah tinggi,” tuturnya.
Selanjutnya pada sektor pendidikan, kerja sama dengan perguruan tinggi terkemuka seperti Tsinghua University telah diwujudkan melalui berbagai kegiatan riset dan seminar yang diselenggarakan di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Bali.
Sedangkan di sektor otomotif, Pemerintah juga mendorong penguatan investasi perusahaan otomotif asal Tiongkok, seperti BYD dan Chery, yang kini telah masuk dalam lima besar pangsa pasar otomotif nasional.
Sementara itu, pada sektor ekonomi digital, Pemerintah terus memperluas investasi di industri semikonduktor, pembangunan jaringan serat optik, pengembangan aplikasi digital, serta infrastruktur pusat data (data center) sebagai bagian dari percepatan transformasi ekonomi digital Indonesia.
Dalam kesempatan tersebut, Airlangga juga berdialog dengan sejumlah pelaku usaha asal Tiongkok, dan turut hadir pula perwakilan dunia usaha dari Indonesia yang berasal dari berbagai sektor, antara lain tekstil, alas kaki, furnitur, pendidikan, kemasan plastik, kawasan industri, elektronik, hingga energi terbarukan.
Add VOI as a Preferred Source
Follow VOI news updates across Google.
+
