JAKARTA — Di sudut sebuah ruang di Jakarta, riuh perbincangan tentang helai kain dan lipatan bahan mengalir hangat. Hari Kebaya Nasional yang jatuh setiap 24 Juli bukan lagi sekadar peringatan kalender budaya, melainkan momen perayaan bagi siapa saja yang ingin merayakan dirinya sendiri melalui selembar kebaya.
Bagi sebagian orang, membayangkan kebaya kerap memanggil ingatan tentang busana kaku, sesak, dan hanya layak dipakai di balai perkawinan. Namun, pandangan itu perlahan luruh. Kebaya kini melangkah keluar dari lemari tua, menemani generasi muda melintasi trotoar kota, ruang kerja, hingga kedai kopi favorit.
Pesan itulah yang ingin ditegaskan oleh Hagai Pakan, penata busana untuk film pendek Jalan Pulang. Menurutnya, nyawa utama dari selembar kebaya bukan terletak pada kerumitan payet atau pakem yang mengikat, melainkan pada rasa percaya diri orang yang memakainya.
“Kalau buat ‘mix and match’ adalah seberani mungkin dan sepede mungkin. Dan senyaman mungkin. Yang penting kita pede dulu. Kalau sudah pede, kita pasti lebih berani,” tutur Hagai usai konferensi pers di Jakarta.
Mendobrak Batas, Menemukan Karakter
Bagi Hagai, kebaya adalah kanvas kosong. Tidak ada aturan baku yang mengharuskan warna A bertemu motif B. Setiap pemakai berhak memadupadankan kebaya dengan gaya personal mereka—entah dipadu kain batik klasik, celana jins kasual, hingga sepatu sneakers favorit.
Kebebasan bereksperimen inilah yang dinilai mampu mendekatkan kebaya dengan ritme hidup anak muda masa kini. Selama ada rasa nyaman, kebaya bisa menjadi perpanjangan dari karakter si pemakai.
Namun, Hagai juga mengingatkan sisi realistis dari berbusana. Tampil menawan tak boleh mengorbankan kenyamanan fisik. Di tengah iklim tropis, kepintaran memilih bahan menjadi kunci agar kebaya tak menjelma jadi “siksaan” di tengah hari yang terik.
- Pintar Memilih Bahan: Sesuaikan ketebalan dan jenis kain dengan lokasi acara.
- Solusi Tampil Nyaman: Gunakan dalaman (inner) berbahan menyerap keringat saat harus mengenakan kebaya tebal di luar ruangan.
“Yang paling penting adalah memilih jenis bahan sesuai dengan tempat kita mau acara. Memang kita yang perlu lebih pintar menyesuaikan,” pungkasnya.
Membawa Kebaya “Pulang” ke Keseharian
Semangat merawat kebaya sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari ini juga diabadikan lewat karya visual. Bakti Budaya Djarum Foundation memprakarsai film pendek bertajuk Jalan Pulang untuk menyambut Hari Kebaya Nasional.
Disutradarai oleh Bramsky, film ini dijadwalkan tayang tepat pada 24 Juli 2026 melalui kanal YouTube IndonesiaKaya.
Lewat narasi sinematik dan sentuhan tata busana yang hangat, Jalan Pulang membawa sebuah misi sederhana: mengajak masyarakat memandang kebaya bukan sebagai pusaka masa lalu yang berdebu, melainkan bagian dari identitas yang tetap bernapas dan relevan di masa kini. Sebab pada akhirnya, kebaya terbaik adalah kebaya yang dipakai dengan bangga dan rasa nyaman.
Add VOI as a Preferred Source
Follow VOI news updates across Google.
+
