JAKARTA – Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif membidik Thailand sebagai salah satu pasar baru bagi produk kreatif Indonesia. Fesyen, film, animasi hingga modifikasi otomotif masuk dalam sektor yang didorong untuk menembus pasar negara tersebut.
Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya mengatakan perluasan pasar akan dijalankan melalui program Creative by Indonesia. Pelaku usaha akan diseleksi dan disesuaikan dengan kebutuhan pasar tujuan sebelum dipertemukan dengan calon mitra bisnis.
“Melalui program unggulan Creative by Indonesia, kami mendorong pelaku ekonomi kreatif Indonesia untuk memperluas akses pasar internasional, termasuk dengan memanfaatkan berbagai agenda ekonomi kreatif di Thailand,” kata Riefky, dikutip dari Antara, Sabtu, 3 Oktober.
Menurut Riefky, proses kurasi penting agar kegiatan business matching atau pertemuan bisnis tidak berhenti pada promosi, tetapi membuka peluang kolaborasi dan kemitraan yang konkret.
Peluang kerja sama semakin luas setelah cakupan ekonomi kreatif Indonesia bertambah dari 17 menjadi 21 subsektor. Selain fesyen, potensi yang dijajaki mencakup pertukaran talenta produksi film, pengembangan animasi, hingga modifikasi otomotif.
Indonesia juga ingin mempercepat pembaruan nota kesepahaman atau MoU ekonomi kreatif dengan Thailand yang masa sebelumnya berakhir pada 2025.
Momentum World Conference on Creative Economy atau WCCE 2026 di Jakarta akan dimanfaatkan untuk mendorong proses tersebut.
Pembahasan dilakukan bersama KBRI Bangkok dengan fokus pada konten penyiaran, film dan animasi, desain, serta musik. Pemerintah juga menjajaki penguatan hubungan dengan Creative Economy Agency Thailand.
Duta Besar RI untuk Thailand merangkap UNESCAP Hari Prabowo mengatakan jaringan ritel seperti Central Department Store dapat menjadi salah satu pintu masuk produk kreatif Indonesia.
“Dari kami, prioritasnya jelas untuk membuka pasar Thailand bagi produk-produk ekonomi kreatif Indonesia,” kata Hari.
Menurut Hari, modest fashion memiliki peluang besar di Thailand. Fesyen tradisional Indonesia yang diberi sentuhan kontemporer juga dinilai memiliki tingkat penerimaan yang tinggi.
Kerja sama sektor fesyen turut diarahkan pada pertukaran pengetahuan antara desainer senior dan mahasiswa dari kedua negara.
Salah satu peluang yang dikembangkan adalah karya yang memadukan wastra Nusantara dengan desain kontemporer agar lebih mudah masuk ke pasar yang lebih luas.
Kementerian Ekraf dan KBRI Bangkok selanjutnya akan memetakan agenda ekonomi kreatif di Thailand sepanjang akhir 2026 hingga 2027.
Agenda tersebut akan digunakan untuk mempertemukan pelaku usaha Indonesia dengan calon mitra melalui pameran dan forum bisnis internasional.
Add VOI as a Preferred Source
Follow VOI news updates across Google.
+
