Konglomerat India Mukesh Ambani Mau AI Masuk Telepon, Aplikasi, sampai Rumah


JAKARTA — Konglomerat Mukesh Ambani tidak ingin India hanya menjadi pasar kecerdasan buatan atau AI. Miliarder pemilik Reliance Industries itu mendorong AI masuk ke layanan yang paling sering dipakai warga yakni panggilan telepon, aplikasi ponsel, dan perangkat rumah.

TechCrunch dikutip Sabtu, 20 Juni, melaporkan, Reliance memperkenalkan sejumlah layanan AI dalam rapat umum pemegang saham tahunan pada Jumat. Produk paling mencolok adalah Jio Call Agent, asisten AI yang bisa ikut dalam panggilan telepon.

Layanan ini dapat menyalin percakapan, membuat ringkasan, memesan taksi, memesan makanan, hingga membuat reservasi. Pengguna cukup mengucapkan “Hey Jio”. Layanan itu ditargetkan meluncur akhir tahun ini untuk lebih dari 500 juta pengguna Jio.

Jio tidak menjadikan layanan itu sebagai aplikasi terpisah. Reliance menanamkannya langsung ke jaringan telekomunikasi. Dengan cara ini, AI disiapkan menjadi fitur bawaan dalam panggilan telepon dan berpotensi mengurangi ketergantungan pengguna pada aplikasi asisten panggilan pihak ketiga.

Reliance juga memperkenalkan versi baru MyJio berbasis AI. Aplikasi itu dapat menjalankan perintah pengguna dengan bahasa sehari-hari, mulai dari mengaktifkan eSIM hingga memilih paket roaming. eSIM adalah kartu SIM digital yang tertanam di perangkat, sehingga pengguna tidak perlu memasang kartu fisik.

Untuk rumah, Reliance meluncurkan TeleFrame, layar pintar yang memakai agen AI untuk menampilkan informasi dan rekomendasi. Misalnya peringatan cuaca, jadwal, dan pengingat rumah tangga. Produk ini berada di jalur yang juga digarap Amazon dan Google lewat asisten AI untuk rumah.

Ambisi Reliance tidak berhenti pada fitur baru. India sedang berusaha membangun kemampuan AI sendiri di tengah dominasi perusahaan teknologi Amerika Serikat dan China.

Lewat Reliance Intelligence, yang diluncurkan tahun lalu, konglomerasi itu ingin membangun infrastruktur dan layanan AI untuk konsumen, bisnis, dan pemerintah. Layanannya juga ditargetkan mendukung 22 bahasa India.

“India tidak boleh hanya menjadi konsumen AI yang dibuat di tempat lain. India harus menjadi pencipta, pengguna, dan pemimpin global dalam AI,” kata Ambani, 69 tahun.

Menurut TechCrunch, Reliance juga memperluas kerja sama dengan Google, Meta, dan Nvidia. Awal tahun ini, perusahaan mengumumkan rencana investasi US$110 miliar untuk infrastruktur AI. Infrastruktur AI mencakup pusat data, chip, jaringan, dan sistem komputasi yang dibutuhkan untuk menjalankan layanan kecerdasan buatan.

Dalam rapat itu, Reliance juga merilis layanan AI untuk kesehatan, pendidikan, pertanian, dan usaha kecil. Produknya diberi nama JioHealthIQ, JioLearnIQ, JioKrishiIQ, dan AI Vyapar. Semua dirancang agar dapat dipakai dalam banyak bahasa India dan sesuai kebutuhan lokal.

Ada kabar lain bagi investor. Ambani mengatakan dewan Jio Platforms telah menyetujui rancangan prospektus IPO. IPO adalah penawaran saham perdana kepada publik. Rencana itu mencakup penerbitan hingga 270 juta saham baru, berdasarkan dokumen ke bursa.

Namun, ekspansi AI Reliance juga membawa pertanyaan besar soal data pengguna. Layanan AI ini menyentuh panggilan telepon, aplikasi, dan perangkat rumah. Reliance menyebut layanan berjalan atas persetujuan pengguna. Tetapi perusahaan belum menjawab apakah data dari produk itu akan dipakai untuk melatih model AI atau dibagikan kepada mitra teknologi.

Pertanyaan itu sensitif karena AI membutuhkan data dalam jumlah besar. Semakin dekat layanan dengan aktivitas harian pengguna, semakin besar pula tanggung jawab perusahaan menjaga privasi.

Ambisi Reliance muncul saat banyak perusahaan India masih bergantung pada model AI dan layanan komputasi awan asing. Komputasi awan adalah layanan penyimpanan dan pengolahan data lewat server internet, bukan perangkat sendiri. Pembatasan akses terhadap beberapa model terbaru Anthropic baru-baru ini memperlihatkan risiko tersebut. Keputusan di luar negeri bisa langsung berdampak pada startup dan perusahaan AI di India.

Karena itu, sejumlah konglomerat India mulai membangun tumpukan teknologi sendiri, bukan hanya menyewa milik pemain global.

Pekan lalu, Reliance mengumumkan kerja sama dengan Meta untuk membangun pusat data AI di Gujarat, India barat. Langkah itu melanjutkan investasi Meta di Jio Platforms dan usaha patungan untuk mengembangkan solusi AI bagi pelanggan korporasi di India dan pasar luar negeri.

Reliance tidak sendirian. Tata Consultancy Services, Infosys, dan Adani Group juga memperluas inisiatif AI serta kemitraan dengan pemain global seperti Anthropic, Google, dan OpenAI.

Bagi Reliance, taruhannya besar. Jio sedang disiapkan masuk bursa. Perusahaan juga membutuhkan sumber pertumbuhan baru setelah saham konglomerasi itu turun sekitar 17 persen tahun ini.

Add VOI as a Preferred Source

Follow VOI news updates across Google.

+





Sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *