ISTAF Proses 8 Anggota Tim Thailand Usai Insiden Final Piala Dunia Sepak Takraw


SINGAPURA — Federasi Sepak Takraw Internasional/International Sepaktakraw Federation (ISTAF) memutuskan melanjutkan proses disiplin terhadap delapan anggota tim Thailand setelah insiden yang terjadi pada final nomor beregu TM ISTAF Sepaktakraw World Cup Kuala Lumpur 2026.

Lima pemain Regu Ketiga Thailand serta tiga ofisial tim yang terdiri atas dua pelatih dan satu manajer kini menghadapi proses disiplin resmi menyusul insiden dalam laga final melawan Malaysia pada Mei lalu.

Keputusan itu diambil dalam rapat Komite Disiplin ISTAF yang digelar secara daring pada Kamis (19/6) dan diikuti 10 perwakilan negara.

Dalam pernyataan resmi yang disampaikan Sekretaris Jenderal ISTAF Datuk Abdul Halim Kader dari Singapura, Jumat (20/6), komite menyatakan telah mempelajari laporan perangkat pertandingan, pengaduan dari Persatuan Sepak Takraw Malaysia (PSM), rekaman video pertandingan, serta penjelasan dari Persatuan Sepak Takraw Thailand (TAT).

Komite menilai terdapat cukup alasan untuk membawa kasus tersebut ke tahap disiplin lebih lanjut.

“Terdapat dasar yang cukup untuk melanjutkan proses disiplin terhadap lima pemain Regu Ketiga Thailand,” demikian bunyi pernyataan resmi Komite Disiplin ISTAF dikutip Sabtu, 20 Juni.

Kelima pemain itu diduga menolak melanjutkan pertandingan. Sementara dua pelatih dan seorang manajer tim juga ikut diproses karena diduga mengarahkan, mendukung, atau tidak mencegah tindakan tersebut.

ISTAF menegaskan persoalan itu tidak bisa dianggap ringan karena menyangkut integritas kompetisi internasional.

“Persoalan ini perlu ditangani secara tegas dan adil guna menjaga integritas, disiplin, dan masa depan olahraga sepak takraw internasional,” tulis ISTAF.

Federasi menilai langkah tersebut penting, terutama menjelang pelaksanaan Asian Games Nagoya 2026 dan Asian Games Doha 2030.

Surat dakwaan resmi terhadap delapan individu tersebut dijadwalkan diterbitkan paling lambat 20 Juni 2026. Mereka akan diberi waktu 14 hari untuk menyampaikan jawaban tertulis atas tuduhan yang dikenakan.

Setelah itu, Komite Disiplin ISTAF akan melanjutkan persidangan dan mengambil keputusan berdasarkan keterangan serta alat bukti yang diajukan sesuai Konstitusi dan Peraturan ISTAF.

Di sisi lain, tujuh pemain Thailand dari Regu Pertama dan Regu Kedua yang turut berada di area pertandingan saat insiden berlangsung diputuskan hanya menerima peringatan keras.

Menurut ISTAF, tindakan mereka dinilai dapat dianggap sebagai provokasi, namun tidak masuk kategori pelanggaran yang memerlukan proses disiplin lanjutan.

Selain menerima teguran, ketujuh pemain tersebut diwajibkan menandatangani surat pernyataan untuk menghormati keputusan perangkat pertandingan, mematuhi peraturan ISTAF, tidak mengganggu jalannya pertandingan, serta menjunjung tinggi sportivitas dan prinsip fair play.

ISTAF juga meminta Persatuan Sepak Takraw Thailand menyampaikan permohonan maaf secara terbuka kepada komunitas sepak takraw internasional dan para penonton atas insiden yang terjadi.

“Setiap pelanggaran disiplin, baik di tingkat nasional maupun internasional, akan ditangani secara serius,” tegas ISTAF.

Meski demikian, federasi menekankan seluruh proses penegakan disiplin tetap dilakukan secara adil, transparan, dan berdasarkan prinsip due process guna menjaga martabat, kredibilitas, dan masa depan olahraga sepak takraw dunia.

Add VOI as a Preferred Source

Follow VOI news updates across Google.

+





Sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *