Yen Dekati Level Terendah 39 Tahun, Jepang Ancam Intervensi


JAKARTA — Jepang kembali mengirim peringatan ke pasar valuta asing. Menteri Keuangan Satsuki Katayama menegaskan pemerintah siap mengambil tindakan tegas jika menemukan pergerakan spekulatif yang memicu pelemahan yen.

Pernyataan itu muncul ketika nilai tukar yen melemah ke kisaran atas 161 per dolar AS, mendekati level terendah dalam lebih dari 39 tahun.

Menurut laporan Kyodo News dikutip Jumat, 19 Juni, Katayama menegaskan sikap pemerintah Jepang tidak berubah meski tekanan terhadap mata uangnya terus berlanjut.

“Tidak ada perubahan sama sekali dalam sikap kami untuk mengambil tindakan tegas,” kata Katayama kepada wartawan, Jumat.

Pernyataan tersebut memicu spekulasi bahwa otoritas Jepang dapat kembali melakukan intervensi di pasar valuta asing untuk menahan pelemahan yen. Intervensi adalah langkah pemerintah atau bank sentral masuk ke pasar dengan membeli atau menjual mata uang guna memengaruhi pergerakan kurs.

Yen sempat jatuh ke 161,81 per dolar AS dalam perdagangan semalam di New York. Itu menjadi level terlemah sejak Juli 2024. Namun secara historis, posisi yen di kisaran atas 161 per dolar AS juga sudah mendekati level terendah dalam lebih dari 39 tahun.

Pelemahan yen terjadi setelah dolar AS menguat. Investor memborong mata uang Amerika Serikat itu setelah Federal Reserve memberi sinyal siap menaikkan suku bunga dalam satu tahun ke depan karena kekhawatiran inflasi.

Bagi Jepang, pelemahan yen bukan kabar baik. Negara itu sangat bergantung pada impor energi karena minim sumber daya alam. Ketika yen melemah, biaya impor energi ikut naik dan berpotensi menambah beban rumah tangga maupun dunia usaha.

Kyodo News mengutip data Kementerian Keuangan Jepang yang menunjukkan otoritas telah menghabiskan dana rekor 11,73 triliun yen atau sekitar 73 miliar dolar AS untuk intervensi pasar valuta asing selama periode 28 April hingga 27 Mei.

Langkah tersebut sempat membantu yen menguat ke sekitar 155 per dolar AS. Namun penguatan itu tidak bertahan lama setelah dolar kembali diburu investor sebagai aset aman di tengah konflik Timur Tengah.

Situasi ini membuat pasar terus mencermati langkah berikutnya dari otoritas Jepang. Di satu sisi pemerintah ingin menahan pelemahan yen. Di sisi lain, setiap intervensi membutuhkan dana yang tidak sedikit, sementara tekanan dari penguatan dolar AS masih belum mereda.

Add VOI as a Preferred Source

Follow VOI news updates across Google.

+





Sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *