
JAKARTA – Wakil Ketua Komisi XIII DPR Andreas Pareira menduga ada aktor besar di balik empat kasus upaya penyelundupan narkoba ke Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) dan Rumah Tahanan (Rutan) di Jakarta.
“Kalau dari dalam Lapas dan Rutan saja bisa mengendalikan sindikat narkoba, artinya ini adalah gembong besar,” ujar Andreas Pareira kepada wartawan, Kamis, 18 Juni.
Andreas pun mempertanyakan kemungkinan adanya celah pengawasan sehingga masih banyak pelaku yang berupaya menyelundupkan narkoba ke Lapas dan Rutan, yang biasanya untuk dipasarkan di balik jeruji.
“Ada apa ini dengan Lapas dan Rutan? Perdagangan narkoba di Lapas itu peristiwa yang selalu berulang, artinya tidak adanya keseriusan Lapas untuk mengawasi perdagangan narkoba,” katanya.
Andreas menilai, sistem pemasyarakatan yang hanya mengikuti pendekatan ‘penahanan’ menyebabkan tindak kriminal masih di Lapas atau Rutan masih sering terjadi. Iapun menilai terbongkarnya sindikat yang dikendalikan napi menunjukkan tantangan pemasyarakatan tidak lagi sebatas pengamanan fisik.
“Terungkapnya sindikat narkoba yang masih dapat dikendalikan oleh narapidana serta berulangnya upaya penyelundupan narkoba ke Lapas dan Rutan menunjukkan tantangan sistem pemasyarakatan saat ini telah berkembang jauh melampaui persoalan keamanan konvensional,” kata Andreas.
Di sisi lain, Andreas menyebut keberhasilan petugas menggagalkan upaya penyelundupan narkoba memang menunjukkan mekanisme pengawasan masih bekerja. Namun pada saat yang sama, kata dia, fakta seorang narapidana masih dapat mengendalikan aktivitas jaringan narkotika di luar Lapas/Rutan menunjukkan adanya persoalan yang lebih mendasar.
“Yaitu bagaimana memastikan proses pemidanaan lewat pemasyarakatan benar-benar memutus kapasitas pelaku untuk tetap menjalankan kejahatan,” imbuh Legislator dari Dapil NTT I itu.
Pimpinan Komisi di DPR yang membidangi urusan pemasyarakatan ini mengatakan perkembangan modus yang semakin kompleks juga menunjukkan organisasi narkotika terus beradaptasi terhadap sistem pengawasan yang ada. Untuk itu, Andreas mendorong adanya reformasi sistem pemasyarakatan yang lebih komprehensif.
“Reformasi pemasyarakatan perlu diarahkan tidak hanya pada pembangunan sarana fisik, tetapi juga pada penguatan sistem intelijen pemasyarakatan. Termasuk pemantauan komunikasi dan manajemen narapidana berisiko tinggi, serta integrasi data dengan aparat penegak hukum,” pungkas Andreas.
Seperti diketahui, empat upaya penyelundupan narkoba ke Lapas Narkotika Jakarta dan Rutan Salemba Jakarta Pusat berhasil digagalkan petugas. Empat kasus penyelundupan ini terjadi dalam sehari yakni pada Senin, 15 Juni.
Adapun dua kasus diungkap petugas Lapas Narkotika Jakarta melalui pemeriksaan ketat di Pintu Pengamanan Utama (P2U) di mana paket-paket berisi narkotika hendak diselundupkan oleh pelaku yang menyamar sebagai pengunjung dengan modus disembunyikan di bagian organ intim untuk mengelabui petugas.
Pada hari yang sama, petugas Rutan Salemba juga menggagalkan dua upaya penyelundupan narkoba dengan modus berbeda. Modus pertama melibatkan pengunjung wanita yang menyelundupkan hendak cairan Etomidate dengan menyamarkannya ke dalam botol obat batuk.
Kemudian modus kedua adalah narkotika jenis sabu yang akan diselundupkan dengan cara disembunyikan secara rapi di dalam kunciran rambut seorang pengunjung wanita. Terkait hal ini, Andreas mengapresiasi petugas Lapas dan Rutan yang berhasil menggagalkan 4 upaya penyelundupan narkoba.
Add VOI as a Preferred Source
Follow VOI news updates across Google.
+
