JAKARTA – Peneliti Singapura dan Jepang menemukan spesies baru ubur-ubur kotak berbisa di perairan dekat Pulau Sentosa, kawasan wisata pantai populer di Singapura. Temuan ini penting karena ubur-ubur kotak termasuk kelompok hewan laut paling berbahaya di dunia.
Menurut laporan The Straits Times dikutip Rabu, 3 Juni, spesies baru itu diberi nama Chironex blakangmati. Nama tersebut diambil dari nama lama Sentosa, yakni Pulau Blakang Mati.
Penemuan ini menjadi catatan pertama spesies baru dari genus Chironex sejak 2017. Genus adalah kelompok dalam klasifikasi makhluk hidup. Dalam kasus ini, Chironex dikenal sebagai kelompok ubur-ubur kotak dengan bisa sangat kuat.
Spesies ini menjadi jenis keempat Chironex yang diketahui di dunia. Populasinya di perairan Singapura belum jelas. Sejauh ini, kemunculannya disebut masih jarang dan tidak rutin.
Tim peneliti berasal dari Tohoku University, Lee Kong Chian Natural History Museum, serta Tropical Marine Science Institute di National University of Singapore.
Mereka meminta pengunjung pantai lebih berhati-hati saat berenang. Langkah sederhana yang disarankan antara lain memakai pakaian renang tertutup dan menggunakan pelampung berwarna mencolok bila berenang jauh dari pantai.
Ubur-ubur kotak dinamai dari bentuk tubuhnya yang menyerupai kubus. Berbeda dari ubur-ubur biasa yang lebih banyak terbawa arus, ubur-ubur kotak bisa berenang sendiri. Hewan ini juga memiliki kemampuan melihat, sehingga lebih efektif memburu mangsa.
Masalahnya, tubuh ubur-ubur kotak transparan dan sulit terlihat di air. Jadi bahayanya bukan hanya pada racunnya, tetapi juga karena orang bisa terlalu dekat tanpa sadar.
Kelompok Chironex bahkan dijuluki sea wasps atau tawon laut. Sengatannya dapat berakibat fatal pada manusia.
Di Singapura, kasus sengatan ubur-ubur kotak memang tidak sering terjadi. Namun pada 2020, aktivitas berenang di Pantai Siloso di Pulau Sentosa sempat dihentikan sementara setelah ubur-ubur kotak terlihat di kawasan itu.
Kasus yang lebih baru dan banyak diberitakan terjadi di Langkawi, Malaysia, pada November 2025. Seorang anak laki-laki Rusia berusia dua tahun meninggal akibat komplikasi setelah tersengat ubur-ubur kotak.
Sebelum dipastikan sebagai spesies baru, C. blakangmati sempat diduga sebagai salah satu dari tiga spesies Chironex yang sudah dikenal.
“C. blakangmati terlihat sangat mirip dengan Chironex yamaguchii,” kata peneliti Cheryl Ames, profesor di Tohoku University, dikutip The Straits Times.
Namun analisis genetik menunjukkan keduanya berbeda. Tim juga menemukan perbedaan bentuk tubuh. C. blakangmati tidak memiliki saluran runcing pada bagian tertentu yang membantu gerak ubur-ubur di air.
Selain spesies baru itu, peneliti juga menemukan Chironex indrasaksajiae di perairan Singapura. Ini laporan pertama spesies tersebut ditemukan di sana. Sebelumnya, ubur-ubur ini lebih banyak ditemukan di perairan Thailand.
Temuan ini penting bagi kawasan wisata pantai di Asia Tenggara, karena sebaran ubur-ubur kotak di wilayah ini belum sepenuhnya dipahami.
National Parks Board Singapura menyarankan masyarakat menutup sebanyak mungkin bagian kulit saat berenang, tidak berenang sendirian, dan membawa cuka biasa sebagai langkah darurat.
Cuka dapat membantu mencegah tentakel ubur-ubur kotak melepaskan lebih banyak racun. Jika tersengat, korban harus tetap tenang dan segera mencari bantuan medis.
Jangan melepas tentakel dengan tangan kosong. Siram area sengatan dengan air laut atau cuka selama minimal 30 detik, lalu lepaskan tentakel memakai handuk atau pinset. Jika cuka membuat rasa sakit memburuk, gunakan air laut saja.
