JAKARTA – Sekretaris Jenderal Kelompok Militan Hizbullah Naim Qassem pada Hari Minggu mengatakan, ia berharap kesepakatan Iran dan Amerika Serikat akan termasuk Lebanon, tempat Israel dan kelompok yang didukung Iran tersebut terlibat konflik.
Konflik Hizbullah dan Israel kembali pecah, menyusul kelompok tersebut menyeret Lebanon ke dalam perang Timur Tengah pada 2 Maret dengan menembakkan roket ke Israel sebagai balasan atas pembunuhan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dalam serangan AS-Israel pada 28 Februari.
“InshaAllah, perjanjian ini akan diselesaikan dan ada tanda-tanda penyelesaiannya, dan karenanya kita pun akan termasuk di antara mereka yang tercakup dalam perjanjian ini – sebuah perjanjian penghentian permusuhan sepenuhnya,” kata Qassem dalam pidato yang disiarkan televisi di saluran televisi Al-Manar milik Hizbullah, melansir Al Arabiya dari AFP (25/5).
Pidato tersebut menandai peringatan penarikan Israel dari Lebanon selatan pada tahun 2000, setelah sekitar dua dekade pendudukan dan setelah tekanan terus-menerus dari Hizbullah.
Qassem mengatakan, Iran, yang telah menyediakan dana dan senjata kepada Hizbullah selama beberapa dekade, “berada di atas angin” dan akan keluar dari perang regional “dengan kepala tegak.”
Sebelumnya, para pejabat Iran mengatakan, kesepahaman dengan Washington untuk menghentikan perang regional akan mencakup Lebanon.
Namun Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan pada Hari Minggu, Presiden AS Donald Trump telah menegaskan kembali dukungannya terhadap hak Israel “untuk membela diri terhadap ancaman di semua lini, termasuk di Lebanon.”
Harapan akan kesepakatan Timur Tengah muncul ketika Lebanon bersiap untuk putaran keempat pembicaraan langsung dengan Israel di Washington pada tanggal 2 dan 3 Juni, yang didahului oleh pertemuan antara delegasi militer di Pentagon pada tanggal 29 Mei.
Qassem sekali lagi mengulangi penolakan kelompoknya terhadap pembicaraan langsung, menuduh sekutu utama Israel, Washington, “bukanlah penengah yang jujur.”
“Negosiasi langsung sama sekali tidak dapat diterima dan hanya menguntungkan Israel,” katanya, merujuk pada otoritas Lebanon yang tahun lalu berkomitmen untuk melucuti senjata Hizbullah dan kemudian melarang aktivitas militernya setelah perang terbaru meletus.
“Tinggalkan negosiasi langsung dan jangan memberi kepada Amerika agar Amerika memberi kepada Israel. Kembalilah pada kesepahaman nasional,” serunya.
“Jangan bersekutu dengan mereka dan menusuk kami dari belakang. Kalian tidak akan mendapatkan apa pun, dan lebih baik bagi kalian untuk membela negara kalian,” tambahnya.
Meskipun mengalami kerugian besar dalam permusuhan tahun 2023-2024 dengan Israel dan perang saat ini, Hizbullah menolak untuk melucuti senjata, dengan alasan bahwa senjata mereka adalah masalah internal Lebanon dan bukan untuk dibahas di Washington.
“Pelucutan senjata berarti melucuti kemampuan pertahanan Lebanon dan kemampuan perlawanan (Hizbullah) dan rakyatnya, membuka jalan bagi pemusnahan,” katanya.
“Pelucutan senjata adalah pemusnahan dan kami tidak dapat menerimanya,” tandas Qassem.
Monopoli negara atas persenjataan yang dituntut oleh pemerintah Lebanon “pada tahap ini bertujuan untuk menargetkan perlawanan dan merupakan proyek Israel” yang tujuannya adalah untuk “menghancurkan perlawanan.”
“Semua fakta membuktikan bahwa kita dan rakyat kita menghadapi ancaman eksistensial,” kata Qassem.
“Kita tidak akan tunduk, bahkan jika seluruh dunia berbalik melawan kita,” pungkasnya.
