JAKARTA – Pelemahan nilai tukar rupiah yang dibarengi volatilitas tinggi dinilai berpotensi menahan arus investasi masuk ke Indonesia.
Kondisi tersebut membuat investor, khususnya investor asing, cenderung mengambil sikap wait and see di tengah meningkatnya ketidakpastian ekonomi dan pasar keuangan.
Kepala Ekonom Permata Bank, Josua Pardede, mengatakan stabilitas rupiah menjadi salah satu faktor utama yang dipertimbangkan investor dalam mengambil keputusan investasi karena berkaitan langsung dengan risiko nilai tukar dan arus modal.
“Kalau kondisi rupiah tidak stabil, pertanyaannya apakah investasi akan berjalan? Semuanya akan wait and see, khususnya investasi asing,” ujarnya dalam Pelatihan Wartawan di Makassar, dikutip Minggu, 24 Mei.
Menurutnya, langkah Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas rupiah tidak bertentangan dengan upaya mendorong pertumbuhan ekonomi, dan justru, kestabilan nilai tukar diperlukan agar pelaku usaha memiliki kepastian untuk melakukan ekspansi dan investasi jangka panjang.
Josua menilai sikap hati-hati dunia usaha mulai terlihat dari masih tingginya posisi undisbursed loan atau kredit yang sudah disetujui bank namun belum dicairkan oleh debitur.
Ia menjelaskan, kondisi tersebut mencerminkan pelaku usaha masih menunda ekspansi akibat ketidakpastian ekonomi dan fluktuasi rupiah.
“Perbankan sudah menyetujui kredit, tetapi debiturnya belum menggunakan. Artinya pelaku usaha masih ragu untuk ekspansi, tambah pabrik, atau beli mesin,” ucapnya.
Berdasarkan data Bank Indonesia menunjukkan rasio undisbursed loan terhadap plafon kredit masih cukup tinggi di sejumlah sektor yaitu beberapa sektor dengan rasio lebih tinggi dibandingkan rata-rata historis periode 2021–2025 antara lain pertanian, jasa dunia usaha, konstruksi, dan pengangkutan. Secara umum, rasio kredit yang belum ditarik tersebut juga masih berada di atas 20 persen dari total plafon kredit.
Josua menegaskan tingginya undisbursed loan bukan disebabkan perbankan menahan likuiditas. Ia menilai kondisi likuiditas perbankan saat ini masih relatif longgar, namun permintaan kredit belum pulih sepenuhnya karena tingginya risiko dan ketidakpastian usaha.
Di sisi lain, ia menilai kenaikan suku bunga acuan oleh Bank Indonesia merupakan langkah pre-emptive untuk menjaga stabilitas rupiah sekaligus mengendalikan ekspektasi inflasi.
Menurut Josua, kebijakan tersebut penting untuk meredam dampak imported inflation akibat pelemahan rupiah dan kenaikan harga global di tengah memanasnya konflik geopolitik di Timur Tengah.
“Ini langkah pre-emptive untuk membatasi dampak import inflation dan menjangkar ekspektasi inflasi,” katanya.
Ia memperkirakan tekanan terhadap rupiah akibat meningkatnya kebutuhan dolar AS untuk pembayaran dividen dan musim haji berpotensi mulai mereda pada kuartal III-2026.
Meski demikian, Josua mengatakan ketidakpastian global yang dipicu konflik di Timur Tengah masih menjadi faktor risiko bagi stabilitas pasar keuangan domestik serta arus investasi asing ke Indonesia.
