JAKARTA – Obesitas atau kelebihan berat badan kini tidak hanya dipandang sebagai persoalan gaya hidup, tapi juga penyakit kronis yang bisa memicu berbagai komplikasi serius, mulai dari diabetes, hipertensi, penyakit jantung, gangguan tidur, hingga penurunan kualitas hidup.
Karena itu, obesitas harus ditangani agar kualitas hidup bisa terjaga dengan baik. Salah satu cara untuk menanganinya ialah bedah bariatrik-metabolik.
Bedah bariatrik-metabolik merupakan prosedur pembedahan pada saluran pencernaan, yang bertujuan membantu penurunan berat badan, sekaligus memperbaiki gangguan metabolisme tubuh, seperti diabetes dan hipertensi.
Dibandingkan dengan metode konservatif, seperti diet, olahraa, dan obat-obatan, bedah bariatrik-metabolik dinilai memberikan hasil jangka panjang yang lebih efektif pada kasus obesitas yang berat.
“Bedah bariatrik-metabolik ini ialah suatu tindakan untuk mengembalikan fungsi-fungsi normal atau mengurangi komorbid. Jadi, ini bukan untuk kosmetik. Efek utamanya untuk menghilangkan komorbid,” kata Spesialis Bedah Subspesialis Bedah Digestif (Konsultan), Dr. dr. Errawan Wiradisuria, Sp.B, Subsp. BD(K), M.Kes, pada media gathering RS Premier Bintaro, ditulis Sabtu, 23 Mei 2026.
Beberapa manfaat utama dari bedah bariatrik mulai dari penurunan berat badan yang signifikan dan bertahan lama, perbaikan kualitas hidup pasien, penurunan risiko penyakit penyerta atau komorbid, hingga perbaikan kondisi diabetes, hipertensi, dan kolesterol tinggi.
Adapun pasien yang dapat melakukan operasi tersebut ialah yang memiliki BMI di atas 35, atau BMI di atas 30 dengan penyakit penyerta yang berisiko tinggi terkait obesitas.
Tak hanya itu, pasien juga harus memiliki komitmen panjang untuk menjalani perubahan pola hidup sehat dan kontrol kesehatan jangka panjang.
Hal ini karena setelah pembedahan terjadi perubahan pada saluran pencernaan, yang dapat berefek pada jumlah makanan yang dikonsumsi sehari-hari.
“Setelah selesai operasi, makannya harus bertahap. Sebebas-bebasnya masih cuma 3-4 sendok, makannya harus teratur. Komunikasi dengan ahli gizi harus intens, terutama untuk apa pun yang kira-kira makanannya meragukan,” tuturnya.
Dengan demikian, selain tindakan operasi, keberhasilan terapi tersebut juga sangat dipengaruhi oleh kepatuhan pasien menjalani pola makan setelah operasi, konsumsi vitamin, olahraga rutin, hingga perubahan gaya hidup sehat secara menyeluruh.
