JAKARTA – Target pertumbuhan ekonomi sebesar 8 persen yang kerap digaungkan pemerintah menuai kritik tajam dari ekonom Celios. Direktur Keadilan Fiskal Center of Economic and Law Studies (CELIOS), Dr. Media Wahyudi Askar, menilai angka tersebut lebih mencerminkan optimisme politik ketimbang sebuah strategi ekonomi yang berbasis pada sektor riil.
Menurut Wahyudi, pidato kepresidenan terbaru yang membingkai situasi negara dalam bayang-bayang ancaman geopolitik dan perang global menunjukkan pola lama. Pemerintah dinilai menggunakan narasi developmental nationalism, di mana Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) diposisikan sebagai benteng atau ‘alat perjuangan’ menghadapi kekacauan dunia.
“Namun, ada kontradiksi di sini. Di satu sisi narasinya seketat itu, tetapi di saat yang sama presiden justru berusaha keras untuk menenangkan pasar,” ujar Wahyudi saatdihubungi VOI, Rabu, 20 Mei.
Target 8 Persen yang Ambisius di Tengah Stagnasi Ekonomi
Wahyudi menambahkan bahwa target pertumbuhan ekonomi 8 persen —yang sudah menjadi jualan utama sejak masa kampanye— masih sangat lemah dan terlalu ambisius. Ia mengingatkan fakta bahwa selama satu dekade terakhir, pertumbuhan ekonomi Indonesia stagnan di kisaran 5 persen.
Situasi ini diperparah dengan adanya kecenderungan ketidakpercayaan publik (distrust) terhadap data-data yang dirilis oleh pemerintah.
“Untuk bisa melompat ke angka 8 persen, Indonesia membutuhkan industrialisasi skala besar, lonjakan produktivitas yang masif, serta efisiensi birokrasi yang radikal,” jelasnya.
Mesin Pertumbuhan yang Belum Jelas: MBG dan Danantara Dipertanyakan
Kritik terbesar dia tertuju pada kaburnya peta jalan (roadmap) untuk mencapai target tersebut. Dalam pidato resmi pemerintah, tidak dijelaskan secara konkret apa yang akan menjadi mesin penggerak utama pertumbuhan ekonomi.
Wahyudi menyangsikan beberapa program dan lembaga superholding yang selama ini digadang-gadang pemerintah, antara lain:
- Program Makan Bergizi Gratis (MBG): Diragukan mampu menjadi motor utama penggerak pertumbuhan ekonomi makro secara signifikan.
- Danantara (Badan Pengelola Investasi Daya Ananta Nusantara): Lembaga ini dinilai belum menunjukkan pergerakan atau dampak nyata dalam satu tahun terakhir.
“Pidato tersebut tidak menjelaskan apa sebenarnya mesin pertumbuhannya. Apa iya MBG? Saya tidak begitu yakin. Kalau Danantara, satu tahun terakhir ini juga belum ke mana-mana,” kata Wahyudi retoris.
Pada akhirnya, dia menyimpulkan bahwa bagi para investor dan pelaku usaha yang memahami betul dinamika lapangan, target 8 persen tersebut masih sebatas retorika. “Itu lebih kepada political optimism ketimbang strategi ekonomi yang berbasis pada sektor riil,” pungkas Media Wahyudi Askar.
