Di Xinzhou, Tradisi Kuno Jadi Wisata yang Bisa Dicoba


JAKARTA – Di Kota Tua Xinzhou, Provinsi Shanxi, China, tradisi tidak hanya dilihat dari jauh. China Daily dikutip Jumat, 8 Mei, melaporkan, wisatawan kini bisa mencelup kain, membentuk adonan, hingga mencoba langsung berbagai kerajinan warisan budaya setempat.

Cui Yafei melihat syal sutra putih berubah hijau setelah direndam dalam pewarna alami selama 10 menit. Beberapa menit setelah terkena udara, warnanya berubah menjadi biru nila.

“Semua orang adalah desainer di sini. Setiap karya adalah kenangan unik antara kami dan teknik pewarnaan alami tradisional,” kata Cui.

Bagi Cui, pengalaman membuat sendiri lebih berkesan daripada sekadar berfoto di tempat wisata terkenal.

Pewarna nila itu berasal dari daun isatis root, tanaman herbal yang digunakan dalam teknik pewarnaan alami tradisional. Di Xinzhou, teknik ini tercatat sebagai warisan budaya takbenda tingkat kota.

Zhao Hui, pewaris teknik tersebut, mengatakan pewarna itu bisa bertahan sangat lama jika dirawat dengan baik. Bengkel Zhao di Kota Tua Xinzhou kini menawarkan lebih dari 100 variasi warna dan menarik semakin banyak pengunjung muda.

Tidak jauh dari bengkel pewarnaan, wisatawan lain mencoba membuat huamo, roti kukus berhias khas China. Di bawah bimbingan Gao Juan, pewaris teknik pembuatan huamo tingkat distrik, adonan bisa dibentuk menjadi ikan dalam hitungan detik.

“Selain bentuk tradisional, kami sekarang menawarkan pengalaman membuat roti bergaya kartun untuk wisatawan,” kata Gao.

Menurut Gao, model wisata yang menggabungkan warisan budaya dan pengalaman langsung ikut membantu perkembangan usahanya.

Pemerintah daerah turut mendorong tren ini. Hingga kini, 30 toko kreatif budaya telah dibuka di satu kawasan khusus Kota Tua Xinzhou. Sebanyak 12 di antaranya merupakan proyek warisan budaya takbenda.

Xinzhou, yang dulu dikenal sebagai Xiurong, memiliki sejarah sejak akhir Dinasti Han Timur pada tahun 25-220. Kota itu kini memadukan pelestarian budaya dengan pengembangan wisata.

Tren serupa juga terlihat di berbagai daerah China. Di Jingdezhen, Provinsi Jiangxi, anak muda antre mencoba membuat keramik. Di Suzhou, Provinsi Jiangsu, pengunjung membuat kipas pernis dengan pigmen mineral. Di Fujian, wisatawan belajar seni membuat teh yang telah berusia lebih dari 1.000 tahun.

Yan Chun, ahli folklor dan profesor madya Universitas Normal Shanxi, mengatakan perubahan itu menunjukkan wisatawan kini tidak puas hanya menjadi penonton.

“Konsumen tidak lagi puas hanya menjadi penerima pasif. Mereka lebih bersedia membayar untuk nilai emosional yang unik, pengalaman sosial, dan kenangan dari proses itu sendiri,” kata Yan.

Menurut Yan, tumbuhnya ekonomi kerajinan tangan membawa tradisi lama lebih dekat kepada publik dan menciptakan dorongan baru bagi konsumsi.





Sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *