ASEAN Mampu Mendorong Dialog, Memperkuat Kemitraan dan Membangun Konsensus saat Ketidakpastian Meningkat


JAKARTA – Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN) mampu mendorong dialog, memperkuat kemitraan dan membangun consensus saat ketidakpastian politik meningkat, kata Menteri Luar Negeri Filipina Ma. Theresa P. Lazaro dalam keterangan pers di Internasional Media Center di Manila, Filipina, Hari Kamis, merujuk gelaran rangkaian ‘59th ASEAN Ministerial Meeting and Post-Ministerial Conferences‘ (AMM/PMC) dan pertemuan-pertemuan terkait yang digelar sejak awal pekan.

Menlu Lazaro mengatakan, rangkaian pertemuan yang digelar sejak Hari Senin yang diikuti Menteri luar negeri negara ASEAN dan mitra eksternal, digunakan untuk membahas isu yang paling penting bagi Kawasan.

“AMM ke-59 menegaskan kembali komitmen bersama ASEAN untuk memajukan Visi Komunitas ASEAN 2045. Selama pertemuan, kami mengadopsi dokumen-dokumen penting, termasuk, salah satunya, Komunike Bersama Pertemuan Menteri Luar Negeri ASEAN ke-59, yang mencerminkan posisi dan prioritas bersama ASEAN mengenai isu-isu yang memengaruhi kawasan kita. Dokumen khusus ini merupakan hasil dari serangkaian negosiasi di antara 11 negara anggota ASEAN,” jelas Menlu Lazaro, Kamis (23/7).

Berikutnya adalah Pedoman tentang Tata Cara Keterlibatan ASEAN dengan Pihak-Pihak Kontrak Tinggi dalam Perjanjian Persahabatan dan Kerja Sama di Asia Tenggara (TAC) yang merupakan prioritas bagi kepemimpinan kita. Pedoman ini menetapkan kerangka kerja yang memungkinkan pihak-pihak kontrak tinggi untuk terlibat lebih dalam (1:28) dengan ASEAN, khususnya mereka yang tidak memiliki pengaturan kemitraan formal dengan ASEAN dan menyediakan jalan baru untuk kerja sama praktis dalam mendukung pembangunan komunitas ASEAN.

Para Menteri Luar Negeri ASEAN juga mengeluarkan pernyataan bersama tentang Situasi yang Berkembang di Timur Tengah, menyatakan seruan kolektif kawasan kepada pihak-pihak terkait untuk melakukan pengendalian diri yang maksimal dan menghindari tindakan apa pun yang dapat memperburuk situasi lebih lanjut.

Mengenai Myanmar, Menlu Lazaro mengatakan dibahas pula keterblibatan ASEAN dengan Myanmar. Merujuk pertemuan di Bangkok, Thailand pekan lalu, “para Menteri luar negeri membahas bagaimana ASEAN dapat menilai kemajuan terukur di Myanmar, termasuk prospek utusan khusus jangka panjang multi-tahun dalam semua diskusi ini.”

“Negara-negara Anggota ASEAN menegaskan kembali, Konsensus Lima Poin tetap menjadi referensi utama ASEAN dalam menangani krisis. Kedua, keterlibatan ASEAN dengan mitra eksternal kami menegaskan kembali kekuatan dan luasnya hubungan eksternal kami,” jelasnya.

Sementara dalam Post-Ministerial Conferences 11 Mitra Dialog, Menlu Theresa mengatakan ASEAN meninjau kemajuan kemitraan strategis komprehensif dan membahas cara-cara untuk lebih memperdalam kerja sama di berbagai bidang, termasuk kerja sama maritim, konektivitas, perdagangan dan investasi, transformasi digital, kejahatan transnasional, keamanan siber, energi, ketahanan pangan, manajemen bencana, aksi iklim, dan pertukaran antar masyarakat.

ASEAN juga mengadakan pertemuan trilateral dengan Turki, Norwegia, Swiss, dan Brasil yang mencerminkan meningkatnya minat mitra untuk bekerja lebih erat dengan ASEAN dan berkontribusi pada perdamaian, stabilitas, dan pembangunan berkelanjutan di kawasan.

ASEAN juga terus menunjukkan relevansi mekanisme yang dipimpin ASEAN dalam mengatasi tantangan regional dan global, kata Menlu Lazaro.

Sementara itu, pertemuan ASEAN Plus-3 yang diikuti China, Jepang dan Korea Selatan menegaskan kembali pentingnya solidaritas dan kerja sama praktis di tengah meningkatnya ketidakpastian global. Pertemuan tersebut membahas perkembangan terkini tentang Rencana Kerja Sama ASEAN Plus-3 2023-2027 yang berfungsi sebagai panduan untuk pembangunan komunitas yang berkelanjutan di kawasan.

“Kami membahas inisiatif saat ini dan yang diusulkan untuk memperkuat ketahanan regional, keamanan pangan dan energi, rantai pasokan, dan kerja sama yang berpusat pada masyarakat di Asia Timur,” jelasnya.

Sedangkan dalam Forum Regional ASEAN ke-33, lanjut Menlu Lazaro, para peserta bertukar pandangan tentang perkembangan politik dan keamanan regional.

“Kami mengadopsi Rencana Aksi Manila 2026-2036, yang akan memandu kerja Forum selama dekade berikutnya dan mengumumkan keputusan kolektif ASEAN untuk menyambut Inggris Raya sebagai peserta ARF ke-28,” terangnya.

Adapun dalam Pertemuan Menteri Luar Negeri KTT Asia Timur (EAS) ke-16 yang mempertemukan ASEAN dan delapan negara peserta, Australia, Tiongkok, India, Jepang, Selandia Baru, Republik Korea, Rusia dan Amerika Serikat, para Menteri luar negeri menyerukan kerja sama praktis yang lebih kuat di tengah ketegangan geopolitik, tantangan transnasional, dan dampak yang semakin besar dari teknologi baru.

“Diskusi kami menegaskan kembali EAS sebagai forum utama yang dipimpin para pemimpin di kawasan ini untuk dialog dan kerja sama strategis dan platform untuk menerjemahkan dialog menjadi tindakan kolektif,” kata Menlu Lazaro.

“Secara keseluruhan, pertemuan-pertemuan ini menunjukkan kekuatan ASEAN dalam menyelenggarakan pertemuan dalam kemampuannya untuk mendorong dialog, memperkuat kemitraan dan membangun konsensus di saat ketidakpastian politik meningkat,” pungkas Menlu Lazaro.

Add VOI as a Preferred Source

Follow VOI news updates across Google.

+





Sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *