JAKARTA — Pemerintah Jepang mulai memperluas pasar obligasi negara dengan menyasar investor individu. Langkah ini dilakukan di tengah meningkatnya minat masyarakat membeli surat utang pemerintah, sekaligus saat Bank of Japan mengurangi pembelian obligasi sebagai bagian dari perubahan kebijakan moneternya.
Kyodo News dikutip Minggu, 28 Juni, melaporkan, Kementerian Keuangan Jepang tengah mengkaji penambahan pilihan obligasi bagi investor individu, termasuk obligasi yang dikaitkan dengan inflasi. Produk baru itu dinilai dapat menarik lebih banyak masyarakat berinvestasi ketika harga-harga terus meningkat.
Di Jepang, bunga tabungan perbankan masih relatif rendah dibanding imbal hasil beberapa seri obligasi pemerintah. Kondisi itu ikut mendorong minat masyarakat mengalihkan dana ke instrumen investasi yang dianggap lebih menarik.
Perubahan kebijakan Bank of Japan juga menjadi faktor penting. Setelah bertahun-tahun membeli obligasi dalam jumlah besar untuk menopang perekonomian, bank sentral kini mulai mengurangi pembeliannya seiring normalisasi kebijakan moneter. Kondisi tersebut membuat pemerintah perlu memperluas basis pembeli surat utang negara.
Dalam rapat para ahli mengenai pengelolaan obligasi pemerintah, muncul usulan agar obligasi superpanjang bertenor 20 tahun dan 30 tahun juga ditawarkan kepada investor individu. Tenor adalah jangka waktu hingga obligasi jatuh tempo.
Saat ini, Jepang memiliki tiga jenis obligasi untuk investor individu. Pertama, obligasi bertenor 10 tahun dengan bunga mengambang yang disesuaikan setiap enam bulan mengikuti bunga pasar. Dua lainnya adalah obligasi berbunga tetap dengan tenor lima tahun dan tiga tahun. Bunganya tidak berubah hingga jatuh tempo. Pembayaran bunga dilakukan setiap enam bulan, sedangkan pokok investasi dikembalikan saat jatuh tempo.
Survei terbaru Kementerian Keuangan Jepang menunjukkan kepemilikan obligasi berbunga tetap tenor lima tahun meningkat di seluruh kelompok usia. Namun, pemerintah ingin memperluas jangkauan kepada investor usia produktif, terutama mereka yang berusia di bawah 30 tahun dan kelompok usia 40-an.
Produk obligasi yang dikaitkan dengan inflasi juga mendapat dukungan dari sebagian anggota panel yang berasal dari lembaga keuangan. Pada obligasi jenis ini, nilai pokok investasi meningkat mengikuti inflasi sehingga daya beli investor lebih terjaga.
Meski demikian, tidak semua pihak sependapat. Sebagian anggota panel menilai penentuan tingkat inflasi sebagai acuan obligasi bukan perkara sederhana karena dapat berbeda dengan kenaikan harga yang dirasakan masyarakat sehari-hari.
Menurut Kyodo News, pembelian obligasi pemerintah Jepang oleh investor individu pada tahun fiskal 2025 yang berakhir Maret melonjak 36,9 persen dibanding tahun sebelumnya menjadi 6,15 triliun yen atau sekitar 38 miliar dolar AS. Angka itu menjadi yang tertinggi sejak 2006.
Penjualan obligasi berbunga tetap tenor lima tahun menjadi penyumbang terbesar dengan nilai 3,20 triliun yen, naik 131,8 persen dibanding tahun sebelumnya. Salah satu pendorongnya adalah tingkat bunga yang mencapai 1,66 persen pada penawaran Maret, jauh di atas bunga tabungan biasa di bank.
Mulai Januari 2027, Kementerian Keuangan Jepang juga akan memperluas penjualan obligasi kepada pembeli nonindividu. Sasarannya antara lain sekolah swasta dan asosiasi pengelola kondominium.
Add VOI as a Preferred Source
Follow VOI news updates across Google.
+
