JAKARTA – Swedia pernah dikenal sebagai negara yang cepat membawa laptop dan tablet ke ruang kelas. Kini arah itu dikoreksi. Pemerintah Swedia kembali memperkuat penggunaan buku cetak setelah muncul kekhawatiran bahwa pemakaian layar secara berlebihan dapat mengganggu konsentrasi dan kemampuan belajar anak.
Kyodo News dikutip Sabtu, 20 Juni melaporkan, pemerintah Swedia mengalokasikan 658 juta hingga 755 juta krona Swedia per tahun, atau sekitar 70 juta–80 juta dolar AS, hingga 2025. Dana itu dipakai untuk membeli buku pelajaran dan bahan ajar cetak bagi prasekolah serta sekolah wajib belajar, dari jenjang dasar hingga setara sekolah menengah pertama.
Di Sekolah Bandhagen, Stockholm, murid kelas empat membaca materi dari bahan cetak. Sebagian waktu pelajaran juga dipakai untuk membaca buku pilihan mereka sendiri. Pemandangan ini menunjukkan perubahan arah di sekolah-sekolah Swedia: layar dikurangi, kertas kembali diberi tempat.
“Ketika membaca melalui perangkat digital, saya biasanya sakit kepala,” kata Emilia, seorang remaja. “Saya bisa lebih berkonsentrasi saat membaca buku fisik.”
Swedia mulai gencar memakai perangkat digital di sekolah sekitar 2010. Perdebatan mengenai penggunaannya menguat setelah hasil PISA dari OECD menunjukkan nilai membaca dan matematika siswa turun tajam pada 2018–2022, seperti dilaporkan Kyodo News. PISA adalah tes internasional untuk mengukur kemampuan siswa di bidang membaca, matematika, dan sains.
Kajian yang diminta pemerintah Swedia dari ahli saraf dan pakar kesehatan anak juga memberi sinyal serius. Ketergantungan besar pada perangkat digital dinilai dapat mengganggu perhatian dan konsentrasi. Bahan ajar cetak disebut berpeluang lebih efektif untuk proses belajar, terutama bagi anak usia dini.
“Keputusan ini didasarkan pada penelitian yang menunjukkan bahwa anak-anak usia dini, yang otaknya masih berkembang, kemungkinan lebih rentan terhadap dampak perangkat digital,” kata Joar Forssell, Ketua Komite Pendidikan Parlemen Swedia.
Langkah Swedia menonjol karena datang saat sejumlah negara justru makin mendorong digitalisasi pendidikan. Jepang, misalnya, baru mengesahkan buku pelajaran digital sebagai bahan ajar resmi di sekolah.
Namun, perdebatan di Swedia tidak berhenti pada soal layar. Sejumlah peneliti dan pendidik menilai penurunan prestasi akademik juga dipengaruhi faktor lain, termasuk perubahan demografi dan tantangan siswa dari keluarga imigran. Sejak sekitar 2015, Swedia menerima banyak imigran dan pengungsi dari Suriah, Afghanistan, serta sejumlah negara Afrika.
Kepala Sekolah Bandhagen, Pia Nystrom, menilai persoalannya bukan semata-mata menyalahkan teknologi. Tantangan terbesarnya adalah menemukan keseimbangan yang tepat antara metode digital dan cara belajar tradisional agar proses belajar siswa tetap efektif.
Add VOI as a Preferred Source
Follow VOI news updates across Google.
+
