
JAKARTA – Serangan itu mula-mula terlihat seperti kerusakan biasa. Beberapa daun jagung tampak berlubang. Di bagian pucuk, terlihat serbuk kecokelatan menyerupai serbuk gergaji.
Namun, dalam hitungan hari, lubang-lubang kecil itu melebar. Daun muda tercabik, pucuk tanaman rusak, dan jagung yang semula tumbuh hijau berubah seperti habis diterjang pasukan tak terlihat.
Ketika gulungan daun dibuka, pelakunya ditemukan bersembunyi di dalam. Seekor ulat berwarna kecokelatan, dengan pola menyerupai huruf “Y” terbalik pada bagian kepala. Ulat itu bukan penghuni lama ladang jagung Indonesia.
Ia adalah Spodoptera Frugiperda, hama asal kawasan tropis dan subtropis Benua Amerika yang lebih dikenal dengan nama fall armyworm (FAW) atau ulat grayak jagung.
Namanya terdengar seperti pasukan. Perilakunya pun demikian. Ketika populasinya tinggi, larva bergerak dan menyerang tanaman secara berkelompok. Mereka menghabiskan daun muda, merusak pucuk, lalu berpindah mencari sumber makanan baru.
Di Indonesia, jejak awalnya ditemukan pada tanaman jagung di Kabupaten Pasaman Barat, Sumatera Barat, pada Maret 2019. Serangannya bukan sekadar beberapa lubang pada daun. Tanaman jagung muda mengalami kerusakan berat. Dalam satu tanaman bahkan dapat ditemukan beberapa larva sekaligus yang bersembunyi dan makan di bagian pucuk.
Dari Pasaman Barat, jejak hama tersebut bergerak cepat. Hasil pemantauan Balai Besar Peramalan Organisme Pengganggu Tumbuhan Kementerian Pertanian pada April–Juli 2019 menunjukkan, fall armyworm telah ditemukan di 12 provinsi.
Provinsi itu meliputi Aceh, Sumatera Barat, Sumatera Utara, Riau, Sumatera Selatan, Lampung, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, dan Gorontalo.
Artinya, hanya dalam waktu sekitar empat bulan, hama asal Benua Amerika tersebut telah bergerak melintasi Sumatera, memasuki Jawa dan Kalimantan, lalu muncul di Sulawesi.
Laporan serangan kemudian datang dari wilayah lain, antara lain Jambi, Bengkulu, Kepulauan Bangka Belitung, dan Jawa Timur. Hingga akhir 2019, luas serangan ulat grayak jagung di Indonesia tercatat mencapai sekitar 29.749 hektare.
Angka itu menggambarkan betapa cepatnya satu hama pendatang mengubah persoalan di sebuah ladang menjadi ancaman nasional.
Di Lampung, dampaknya terlihat jelas. Pengamatan yang dilakukan di Kabupaten Lampung Timur dan Lampung Tengah pada Mei 2019 menemukan seluruh tanaman jagung muda pada lahan yang diamati telah terinfestasi.
Setiap tanaman dihuni larva berukuran sedang atau besar. Larva mula-mula mengikis lapisan permukaan daun, kemudian bergerak menuju pucuk dan titik tumbuh.
Jagung yang baru berusia sekitar dua minggu menjadi sasaran paling rentan. Daun tanaman dapat habis terlebih dahulu sebelum larva menyerang bagian pucuknya.
Temuan tersebut memang tidak dapat digeneralisasi untuk seluruh lahan jagung di Provinsi Lampung. Namun, kondisi pada lokasi pengamatan memperlihatkan betapa berat serangan yang dapat terjadi ketika hama terlambat diketahui.
Di Banten, pemantauan di Kecamatan Jawilan, Kabupaten Serang, menemukan serangan pada areal jagung seluas 25 hektare. Intensitas serangannya mencapai sekitar 25,92 persen. Kerusakan serupa ditemukan di Jawa Barat, Jawa Tengah, serta sejumlah wilayah di Kalimantan.
Petani dan petugas menemukan daun berlubang, pucuk rusak, serta tumpukan kotoran larva menyerupai serbuk gergaji di dalam gulungan daun.
Pada serangan ringan, tanaman mungkin masih dapat bertahan. Namun, ketika larva mencapai titik tumbuh, peluang tanaman menghasilkan tongkol secara optimal ikut menurun.
Salah satu gambaran kerugian paling nyata muncul beberapa bulan kemudian di Nusa Tenggara Timur.
Pada awal 2020, sekitar 10.563 hektare pertanaman jagung di NTT dilaporkan terserang fall armyworm. Lebih dari 213.000 hektare lahan lainnya masuk dalam kategori terancam.
Pemerintah daerah memperkirakan, apabila serangan tidak dikendalikan, kehilangan hasil dapat mencapai sekitar 24.018 ton jagung.
Dengan asumsi harga jagung Rp5.000 per kilogram, potensi kerugiannya diperkirakan menembus Rp120,09 miliar.
Bagi petani, angka itu bukan sekadar statistik. Di balik setiap hektare yang rusak terdapat biaya benih, pupuk, tenaga, dan waktu yang telah dikeluarkan. Ketika pucuk tanaman dimakan dan titik tumbuhnya rusak, harapan terhadap hasil panen ikut menyusut.
Tanaman mungkin masih berdiri, tetapi tongkolnya belum tentu terbentuk sempurna. Hasil panen yang tersisa pun belum tentu cukup untuk mengembalikan modal.
Bagi masyarakat NTT, jagung juga bukan hanya komoditas perdagangan. Jagung merupakan sumber pangan, pendapatan, sekaligus bagian dari kehidupan keluarga petani.
Karena itu, ketika fall armyworm datang, yang terancam bukan hanya angka produksi. Hama tersebut juga menggerogoti persediaan pangan dan penghasilan rumah tangga.
Bagaimana seekor ulat dapat berpindah antardaerah begitu cepat?
Jawabannya bukan terletak pada ulatnya, melainkan pada fase dewasanya.
Setelah melewati fase kepompong, fall armyworm berubah menjadi ngengat. Dengan bantuan angin, ngengat dewasa dapat bermigrasi puluhan hingga ratusan kilometer dalam satu malam.
Seekor ngengat betina juga mampu menghasilkan lebih dari 1.000 telur sepanjang hidupnya. Telur-telur itu diletakkan secara berkelompok pada permukaan daun dan biasanya ditutupi lapisan menyerupai bulu halus.
Beberapa hari kemudian, telur menetas. Larva yang masih kecil mulai mengikis permukaan daun sebelum bergerak menuju pucuk dan masuk ke bagian tanaman yang lebih terlindung.
Dari luar, tanaman mungkin hanya menunjukkan beberapa lubang kecil. Namun, di dalam gulungan daun, larva terus makan dan tumbuh.
Ketika petani menyadari kerusakannya, ulat sering kali sudah berada jauh di dalam pucuk. Posisi tersebut membuatnya lebih sulit dijangkau semprotan pestisida.
Fall armyworm juga bukan hanya pemakan jagung. Hama ini diketahui dapat menyerang lebih dari 80 jenis tanaman, antara lain sorgum, gandum, millet, tebu, padi, kapas, serta sejumlah tanaman sayuran. Namun, jagung menjadi salah satu tanaman yang paling disukainya.
Perpaduan antara kemampuan terbang jauh, perkembangbiakan cepat, dan pilihan tanaman inang yang banyak menjadikan fall armyworm sebagai hama pendatang yang sangat berhasil menaklukkan wilayah baru.
Sebelum sampai ke Indonesia, hama ini telah lebih dahulu membuat dunia waspada. Selama bertahun-tahun, fall armyworm dikenal sebagai masalah pertanian di Benua Amerika. Situasi berubah pada 2016 ketika keberadaannya terdeteksi di Afrika.
Dari sana, penyebarannya berlangsung cepat. Dalam beberapa tahun, hama tersebut menembus puluhan negara, menyerang ladang jagung, dan mengancam penghidupan jutaan petani. Pada 2018, fall armyworm terdeteksi di India. Jejaknya kemudian muncul di Bangladesh, Sri Lanka, Myanmar, Thailand, dan China.
Setahun kemudian, ia tiba di Indonesia. Tidak ada satu jawaban sederhana mengenai jalur pertama yang membawanya masuk. Ngengat dewasa dapat berpindah secara alami dengan bantuan angin.
Namun, perdagangan dan pergerakan komoditas pertanian juga membuka jalur lain. Telur, larva, atau kepompong dapat terbawa pada tanaman, bagian tanaman, media tanam, kemasan, maupun sarana angkut.
Begitu berhasil menetap dan berkembang biak, hama tersebut semakin sulit dihentikan. Indonesia memiliki iklim hangat, sumber makanan tersedia hampir sepanjang tahun, dan pertanaman jagung tersebar di berbagai daerah.
Bagi fall armyworm, kondisi tersebut menyerupai rumah baru dengan persediaan makanan yang tidak pernah benar-benar habis. Kehadiran hama ini segera mendorong pemerintah memperkuat pemantauan di lapangan.
Kementerian Pertanian, pemerintah daerah, petugas perlindungan tanaman, peneliti, penyuluh, dan petani turun memeriksa sentra-sentra jagung.
Sampel ulat dikumpulkan dan diidentifikasi untuk memastikan bahwa hama yang ditemukan benar-benar Spodoptera frugiperda, bukan jenis ulat grayak lain yang telah lama berada di Indonesia.
Identifikasi menjadi penting karena beberapa jenis ulat memiliki bentuk yang sekilas mirip. Pada fall armyworm, salah satu ciri yang paling mudah dikenali adalah pola menyerupai huruf “Y” terbalik pada kepala. Di bagian belakang tubuhnya terdapat empat titik hitam yang tersusun menyerupai persegi.
Petani kemudian diperkenalkan dengan cara mengenali telur, larva, gejala serangan, hingga bagian tanaman yang perlu diperiksa.
Pemantauan harus dilakukan sejak jagung masih muda. Semakin awal hama ditemukan, semakin besar peluang mengendalikannya sebelum kerusakan meluas.
Kelompok telur dapat dikumpulkan dan dimusnahkan sebelum menetas. Larva yang masih sedikit juga bisa diambil secara manual, terutama pada lahan yang tidak terlalu luas.
Musuh alami ikut dipertahankan. Semut, laba-laba, kepik predator, burung, dan berbagai jenis parasitoid dapat membantu menekan populasi telur maupun larva di alam.
Karena itu, penggunaan pestisida tidak boleh dilakukan secara serampangan. Penyemprotan berulang menggunakan bahan aktif yang sama dapat mendorong terbentuknya resistensi. Pestisida berspektrum luas juga berisiko membunuh musuh alami yang sebenarnya membantu petani.
Ketika musuh alami menghilang, ulat justru dapat berkembang dengan lebih sedikit penghalang.
Pengendalian kemudian diarahkan melalui pendekatan pengelolaan hama terpadu. Caranya dengan menggabungkan pemantauan rutin, pengendalian mekanis, pemanfaatan musuh alami, penggunaan agen hayati, penerapan budidaya yang baik, serta penggunaan pestisida secara tepat apabila diperlukan.
Waktu pengendalian sangat menentukan. Tindakan lebih efektif ketika larva masih kecil dan belum bersembunyi jauh di dalam pucuk tanaman.
Petani juga didorong menjaga kebersihan lahan, mengelola sisa tanaman, melakukan penanaman serempak pada kawasan yang memungkinkan, serta menghindari pertanaman jagung dengan umur yang terlalu beragam dalam satu hamparan.
Jagung yang ditanam terus-menerus dengan waktu berbeda dapat menyediakan makanan bagi hama sepanjang tahun. Ketika tanaman di satu lahan menua, ngengat dapat berpindah dan meletakkan telur pada tanaman yang lebih muda.
Pemerintah bersama perguruan tinggi, lembaga penelitian, dan organisasi internasional juga mengembangkan panduan pengamatan, memetakan wilayah serangan, meningkatkan kemampuan petugas, serta mencari metode pengendalian yang aman dan sesuai dengan kondisi Indonesia.
Di pintu-pintu pemasukan, karantina tumbuhan menjadi lapisan pertahanan untuk mencegah masuknya organisme pengganggu dari luar negeri.
Tanaman, benih, bagian tanaman, media tanam, dan komoditas pertanian yang dilalulintaskan harus memenuhi persyaratan karantina.
Pemeriksaan tidak berhenti pada dokumen. Petugas juga memeriksa kondisi fisik komoditas, kemasan, serta media pembawanya untuk menemukan tanda-tanda keberadaan organisme pengganggu.
Apabila komoditas tidak memenuhi persyaratan atau ditemukan membawa organisme berisiko, petugas dapat melakukan penahanan, perlakuan, penolakan, pemusnahan, atau tindakan karantina lainnya sesuai ketentuan.
Langkah itu bukan sekadar urusan administrasi.
Sejumlah telur yang menempel pada daun, larva yang bersembunyi di sela kemasan, atau kepompong yang terbawa media tanam dapat menjadi awal masuknya hama ke wilayah baru.
Namun, pengalaman menghadapi fall armyworm memperlihatkan bahwa pertahanan di pintu masuk saja tidak cukup. Ngengat dewasa dapat terbang jauh dan terbawa angin. Ia dapat melintasi batas wilayah tanpa dokumen, kendaraan, atau barang bawaan yang bisa diperiksa.
Karena itu, perlindungan tanaman harus dibangun secara berlapis.
Karantina mengawasi pintu pemasukan dan pergerakan media pembawa. Petugas perlindungan tanaman memantau wilayah produksi. Peneliti menyiapkan metode pengendalian. Penyuluh menyampaikan informasi, sementara petani menjadi mata pertama yang melihat perubahan di lahan.
Petani sering kali menjadi orang pertama yang mengetahui ada sesuatu yang tidak biasa.
Lubang pada daun, kotoran di dalam pucuk, atau ulat dengan tanda “Y” terbalik merupakan alarm yang tidak boleh diabaikan.
Pelaporan dini membuat petugas dapat datang, memastikan identitas hama, memetakan serangan, dan menentukan tindakan sebelum kerusakan berkembang tanpa kendali.
Kisah fall armyworm memperlihatkan betapa cepatnya hama asing mengubah persoalan lokal menjadi ancaman nasional.
Pada Maret 2019, ia baru terdeteksi di satu wilayah di Sumatera Barat. Empat bulan kemudian, jejaknya telah ditemukan di 12 provinsi.
Menjelang akhir tahun, luas serangannya telah mencapai puluhan ribu hektare. Beberapa bulan kemudian, NTT harus menghadapi potensi kerugian hingga Rp120 miliar.
Dalam waktu sesingkat itu, hama asal Benua Amerika tersebut tidak hanya menemukan jalan menuju Indonesia. Ia juga menemukan iklim yang sesuai, sumber makanan berlimpah, dan bentang pertanaman yang memudahkannya terus bergerak.
Sejak saat itu, fall armyworm bukan lagi sekadar hama pendatang. Ia telah menjadi tantangan yang harus dihadapi petani pada setiap musim tanam.
Hama itu memang berukuran kecil. Namun, perjalanan lintas benua dan kemampuannya menaklukkan wilayah baru meninggalkan pesan yang jauh lebih besar.
Dalam dunia yang semakin terhubung, ancaman terhadap pertanian dapat datang dari tempat yang sangat jauh, bergerak tanpa disadari, lalu memperlihatkan jejak pertamanya dalam bentuk beberapa lubang kecil pada sehelai daun. Ketika lubang itu terlihat, waktu untuk bertindak mungkin sudah mulai berjalan.
Add VOI as a Preferred Source
Follow VOI news updates across Google.
+
