JAKARTA — Film kolosal “Dayak” disiapkan untuk membawa kebudayaan Dayak ke layar lebar. Proyek ini tidak hanya mengejar tontonan besar, tetapi juga ingin meluruskan stigma lama tentang masyarakat Dayak yang kerap dianggap tertinggal dan tertutup.
Rencana produksi film itu dibahas dalam audiensi Tim Produksi Film “Dayak” dengan Menteri Kebudayaan RI Fadli Zon di kantor Kementerian Kebudayaan, Jakarta, Senin, 25 Mei.
Ketua Tim Produksi Film “Dayak”, Thoeseng T.T. Asang, mengatakan film ini menjadi upaya memperkenalkan sejarah, keberagaman, dan nilai perdamaian masyarakat Dayak kepada publik luas.
Menurut Thoeseng, masyarakat Dayak memiliki ratusan sub-suku dan ratusan bahasa. Kekayaan itu menjadi bagian penting dari mozaik budaya Indonesia.
Film ini juga akan mengangkat Perjanjian Tumbang Anoi 1894, salah satu tonggak penting dalam sejarah perdamaian masyarakat Dayak.
“Melalui film ini kami ingin menjaga, melestarikan, dan memperkenalkan budaya Dayak dengan semangat ‘Karya untuk Negeri, Dayak untuk Indonesia’,” kata Thoeseng.
Produser eksekutif film “Dayak”, Abriantinus, menyebut tim produksi telah melakukan riset sejak 2021. Riset itu melibatkan tokoh adat dan masyarakat Dayak di Kalimantan.
Ia mengatakan film ini akan memadukan unsur sejarah dan fiksi. Tujuannya, menghadirkan kisah Dayak dalam format film panjang yang tetap menarik bagi penonton luas.
“Film Dayak ini diharapkan bisa meluruskan stigma negatif terhadap masyarakat Dayak yang selama ini dianggap tertinggal dan tertutup,” kata Abriantinus.
Ia menegaskan masyarakat Dayak menjunjung tinggi perdamaian dan mampu hidup berdampingan dengan masyarakat luas. Film ini juga akan mengenalkan hukum adat Dayak yang mengedepankan pendekatan humanis dan kekeluargaan.
Sutradara film “Dayak”, Ivan Baghito, mengatakan pengangkatan budaya Dayak ke layar lebar penting sebagai arsip budaya. Ia menilai minat publik terhadap film berbasis budaya terus tumbuh.
“Film ini diharapkan tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga memperkuat pengetahuan masyarakat tentang budaya Dayak secara komprehensif,” ujar Ivan.
Menteri Kebudayaan Fadli Zon mengapresiasi rencana produksi film tersebut. Ia menyebut budaya Dayak sebagai bagian penting dari kekayaan budaya nasional yang memiliki sejarah dan kearifan lokal kuat.
“Kami mendukung berbagai upaya yang dapat memajukan kebudayaan nasional, termasuk budaya Dayak yang sangat kaya dan menarik untuk diangkat melalui film,” ujar Fadli.
Namun Fadli mengingatkan kalau film budaya tetap membutuhkan skenario kuat. Tanpa cerita yang menggigit, pesan besar bisa kalah oleh kemasan yang datar.
“Film komersial memerlukan skenario yang kuat dan menarik agar mampu menjangkau penonton secara luas,” katanya.
Fadli berharap film “Dayak” dapat menjadi sarana edukasi budaya, pengenalan sejarah, serta promosi nilai perdamaian dan keberagaman Indonesia.
