JAKARTA – Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) mendesak PT PLN (Persero) melakukan evaluasi menyeluruh setelah terjadinya pemadaman listrik massal atau blackout di sejumlah wilayah Sumatera.
Ketua Pengurus Harian YLKI, Niti Emiliana, menyatakan pihaknya prihatin atas gangguan kelistrikan yang berdampak luas terhadap masyarakat dan aktivitas ekonomi di berbagai daerah. “YLKI prihatin dan menyayangkan adanya kejadian ini. Tentu ada kerugian dari kedua belah pihak,” ujar Niti dalam keteranganya, Senin 25 Mei.
Blackout diketahui melanda sejumlah wilayah di Sumatera, di antaranya Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, dan Jambi. Menurut YLKI, gangguan tersebut tidak hanya merugikan PLN dari sisi operasional dan reputasi, tetapi juga menimbulkan kerugian ekonomi nyata bagi masyarakat sebagai konsumen.
“PLN mengalami kerugian operasional dan reputasi. Sementara itu, konsumen mengalami kerugian ekonomi yang nyata atas aktivitas sehari-hari maupun bisnis yang terhambat,” jelasnya.
YLKI menilai PLN memang memiliki tanggung jawab untuk mempercepat pemulihan sistem kelistrikan. Namun, langkah pemulihan dinilai belum cukup tanpa adanya evaluasi mendalam terhadap sistem distribusi dan transmisi listrik.
“Kami menuntut evaluasi menyeluruh serta penerapan mekanisme mitigasi risiko yang lebih andal, khususnya melalui pembangunan dan optimalisasi sistem looping yang mumpuni untuk memastikan keandalan distribusi listrik,” kata Niti.
Ia menegaskan peristiwa blackout ini harus menjadi alarm bagi PLN untuk memperkuat sistem keandalan kelistrikan nasional, terutama di wilayah dengan cakupan distribusi luas seperti Sumatera.
Menurut YLKI, potensi kompensasi kepada konsumen akibat gangguan layanan juga dapat menjadi beban finansial besar bagi perusahaan apabila kejadian serupa terus berulang.
“Ke depannya, PLN wajib menempatkan investasi pada keandalan sistem sebagai prioritas utama guna menghindari kerugian bagi masyarakat maupun perusahaan itu sendiri,” tegas Niti.
