JAKARTA – Sedikitnya tiga relawan Palang Merah di Republik Demokratik Kongo meninggal dunia akibat terinfeksi Ebola tertular saat menangani jenazah.
Mengutip BBC Internasional, Minggu 24 Mei, ketiganya tertular Ebola pada 27 Maret saat bekerja di wilayah timur Ituri dalam sebuah proyek yang tidak terkait dengan virus tersebut, sebelum wabah tersebut akhirnya teridentifikasi.
Ketiganya bernama Alikana Udumusi Augustin, Sezabo Katanabo, dan Ajiko Chandiru Viviane, diperkirakan relawan yang untuk pertama kalinya meninggal di tengah wabah Ebola di Republik Demokratik Kongo, yang korbannya mencapai 170 kematian dan 750 kasus yang diduga.
Federasi Internasional Palang Merah dan Bulan Sabit Merah (IFRC) dalam pernyataannya menyebutkan, ketiganya meninggal setelah melayani komunitas mereka “dengan keberanian dan kemanusiaan”.
IFRC menambahkan, wabah tersebut “belum teridentifikasi” ketika ketiga relawan Palang Merah itu sedang menangani jenazah.
Ketiganya meninggal antara tanggal 5 dan 16 Mei saat menangani jenazah di Kota Mongbwalu, yang sekarang dianggap sebagai pusat wabah.
Pada Jumat pekan ini, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menaikkan risiko kesehatan masyarakat dari virus di Republik Demokratik Kongo dari “tinggi” menjadi “sangat tinggi”.
Kepala WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, juga mengatakan risiko penyebaran Ebola di wilayah Afrika “tinggi”, tetapi “rendah” secara global.
Wabah di Republik Demokratik Kongo melibatkan spesies Ebola langka, yang dikenal sebagai Bundibugyo. Hingga saat ini belum ada vaksin yang yang terbukti dan membunuh sekitar sepertiga dari mereka yang terinfeksi di kawasan tersebut.
Para ahli kesehatan memperingatkan bahwa menyentuh tubuh seseorang yang meninggal karena Ebola dapat terinfeksi virus karena cairan tubuh sangat menular meski setelah kematian.
Negara tetangga Republik Demokratik Kongo, Uganda, juga telah melaporkan kasus Ebola. Pada Sabtu kemarin, kementerian kesehatannya mengkonfirmasi tiga kasus baru – sehingga jumlah infeksi yang dikonfirmasi di sana menjadi lima.
Pada hari yang sama, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Afrika memperingatkan bahwa 10 negara lain di benua itu berisiko terkena dampak: Angola, Burundi, Republik Afrika Tengah, Republik Kongo, Ethiopia, Kenya, Rwanda, Sudan Selatan, Tanzania, dan Zambia.
