JAKARTA – Indonesia kembali masuk panggung seni paling bergengsi di dunia lewat Paviliun Indonesia pada Venice Biennale 2026. Tahun ini, pemerintah tidak sekadar memamerkan karya seni, tetapi membawa narasi besar tentang sejarah, identitas, dan imajinasi Nusantara ke ruang percakapan global.
Paviliun Indonesia mengusung tema “Printing the Unprinted” dan resmi dibuka di Scuola Internazionale di Grafica, Venesia. Pameran berlangsung mulai 9 Mei hingga 22 November 2026.
Menteri Kebudayaan Fadli Zon menegaskan kehadiran Indonesia di Venice Biennale menjadi langkah penting dalam memperkuat diplomasi budaya Indonesia di tingkat internasional. Momentum ini juga menjadi partisipasi pertama di bawah Kementerian Kebudayaan yang berdiri sendiri.
“Indonesia hadir bukan hanya untuk memperkenalkan kebudayaan kepada dunia, tetapi ikut membentuk percakapan global melalui seni,” kata Fadli Zon saat pembukaan, Jumat, 8 Mei.
Ia menilai Indonesia memiliki modal budaya yang besar. Lebih dari 17 ribu pulau, ratusan etnis, dan ratusan bahasa daerah disebut menjadi fondasi lahirnya ekosistem budaya yang dinamis.
Menurut Fadli, tema “Printing the Unprinted” dipilih untuk menampilkan suara-suara yang selama ini jarang tercatat dalam sejarah arus utama. Lewat karya seni grafis, para seniman Indonesia mencoba membongkar cara pandang lama tentang sejarah dunia yang selama ini didominasi perspektif Barat.
Paviliun Indonesia tahun ini dikuratori Aminudin TH Siregar dan menghadirkan tujuh seniman lintas generasi, yakni Agus Suwage, Syahrizal Pahlevi, Nurdian Ichsan, R.E. Hartanto, Theresia Agustina Sitompul, Mariam Sofrina, dan Rusyan Yasin.
Karya mereka berangkat dari narasi spekulatif tentang pelayaran besar abad ke-15 yang terinspirasi manuskrip imajiner dari Sumatra. Dari titik itu, para seniman membangun tafsir baru tentang hubungan Asia dan Eropa, termasuk kritik terhadap sejarah global yang kerap dibangun lewat klaim penemuan dan kedatangan.
Yang menarik, proses kreatif tidak sepenuhnya dikerjakan di Indonesia. Sejumlah karya dikembangkan langsung di Venesia melalui residensi, dialog, dan kolaborasi artistik di ruang pamer.
Paviliun Indonesia juga menghadirkan program residensi, lokakarya, diskusi seni, hingga simposium. Pemerintah turut melibatkan talenta muda melalui program Manajemen Talenta Nasional Seni Budaya bersama Negeri Elok.
Pendekatan art therapy juga digunakan dalam kolaborasi tersebut. Seni diposisikan bukan hanya sebagai ekspresi estetika, tetapi ruang membangun empati, merawat ingatan, hingga memperkuat ketahanan personal dan kolektif.
“Budaya adalah sumber identitas dan imajinasi. Ekonomi kreatif mengubahnya menjadi pengaruh global,” ujar Fadli Zon.
