JAKARTA – Pemerintah ingin mendorong Jogja-NETPAC Asian Film Festival atau JAFF naik kelas. Festival film yang tumbuh dari Yogyakarta itu dibidik menjadi pintu masuk film Indonesia ke pasar internasional.
Menteri Kebudayaan Fadli Zon membahas rencana itu bersama Yayasan Sinema Yogyakarta di kantor Kementerian Kebudayaan, Jakarta, Senin, 4 Mei. Pertemuan tersebut menyoroti penguatan JAFF Market sebagai ruang temu pelaku film Indonesia dengan industri global.
Fadli mengatakan Indonesia membutuhkan pasar film yang stabil agar bisa tampil lebih kuat di luar negeri. Menurutnya, JAFF sudah punya modal untuk menjadi wajah Indonesia di forum internasional.
“Kerja sama internasional juga harus ditampilkan di JAFF. Kita harus percaya diri bahwa JAFF ini sudah layak menjadi etalase internasional,” ujar Fadli.
Kementerian Kebudayaan akan mengirim undangan resmi kepada China, Prancis, Arab Saudi, dan Rusia agar membuka paviliun di JAFF Market. Pemerintah juga menyiapkan peta jalan pengembangan JAFF agar selaras dengan kebijakan nasional.
Langkah itu dinilai penting karena industri film Indonesia sedang menarik perhatian pasar luar negeri. Korea Selatan disebut aktif mencari mitra ko-produksi, dengan Indonesia sebagai salah satu tujuan utama.
Direktur Festival JAFF, Ifa Isfansyah, mengatakan JAFF juga memperkuat literasi film, termasuk melalui program JAFF Kids. Menurut Ifa, festival, market, dan komunitas harus berjalan bersama agar ekosistem film tidak hanya hidup di ruang produksi, tetapi juga di penonton.
“Melalui festival, market, dan komunitas, JAFF diharapkan dapat berkontribusi dalam membangun ekosistem perfilman yang progresif,” kata Ifa.
Fadli juga menyoroti potensi investasi di sektor film, termasuk minat dari Tiongkok terhadap bisnis layar bioskop. Kementerian Kebudayaan menyiapkan pemanfaatan aset negara untuk mendukung industri ini.
Salah satunya dengan mengubah teater di Museum Nasional Indonesia menjadi bioskop modern berkapasitas 237 kursi dengan teknologi Dolby Surround.
Pertemuan itu juga dihadiri jajaran Kementerian Kebudayaan dan perwakilan Yayasan Sinema Yogyakarta.
Bagi pemerintah, penguatan JAFF bukan hanya soal festival. Tantangannya ada pada konsistensi pasar, jejaring internasional, dan kemampuan Indonesia menjual karya filmnya dengan posisi tawar yang lebih kuat.
