JAKARTA – Lembaga Ketahanan Nasional atau Lemhannas RI mengingatkan ancaman terhadap ketahanan nasional kini tidak hanya datang dari kekuatan militer. Perang kognitif, kecerdasan buatan, dan algoritma penyebaran informasi juga dinilai dapat memengaruhi pola pikir masyarakat.
Peringatan itu disampaikan Gubernur Lemhannas Ace Hasan Syadzily saat penandatanganan nota kesepahaman dengan Persatuan Wartawan Indonesia atau PWI Pusat di Kantor Lemhannas RI, Jakarta, Kamis, 15 Oktober.
“Kita menyampaikan ketahanan nasional bukan hanya ditentukan kekuatan militer, tetapi juga oleh komponen yang lain. Ketahanan ideologi, politik, ekonomi, sosial dan budaya, demografi kita,” kata Ace.
Menurut Ace, ancaman terhadap bangsa juga berkembang dalam bentuk perang kognitif yang menyasar cara masyarakat memahami dan merespons informasi.
Perkembangan kecerdasan buatan atau AI serta penggunaan algoritma dalam distribusi informasi membuat kemampuan berpikir kritis semakin penting.
“Kita harus menyadari itu dan bisa jadi kita menjadi kekuatan yang dipakai,” ujarnya.
Kerja sama PWI dan Lemhannas mencakup peningkatan kualitas sumber daya manusia melalui pendidikan kepemimpinan dan Program Pemantapan Nilai-Nilai Kebangsaan. Kedua lembaga juga sepakat melakukan pertukaran informasi dan narasumber serta menggelar kegiatan ilmiah.
Nota kesepahaman ditandatangani Ketua Umum PWI Akhmad Munir dan Gubernur Lemhannas Ace Hasan Syadzily.
Munir mengatakan kerja sama tersebut merupakan pembaruan dari kolaborasi yang sudah berlangsung cukup lama.
“Kami menyambut baik MoU antara PWI dengan Lemhannas. Kerja sama ini adalah pembaruan karena sebelumnya antara PWI dengan Lemhannas sudah terjalin kerja sama yang cukup lama,” katanya.
Menurut Munir, anggota PWI di pusat maupun daerah selama ini telah mengikuti berbagai program Lemhannas, termasuk pendidikan wawasan kebangsaan dan wawasan nusantara selama tiga hingga enam bulan.
Ia mengatakan tantangan ketahanan nasional semakin kompleks seiring perkembangan teknologi informasi dan dinamika geopolitik.
Karena itu, penguatan wawasan kebangsaan di kalangan wartawan dinilai penting karena pers berperan memproduksi dan mendistribusikan informasi kepada masyarakat.
“Khususnya oleh wartawan, komunitas pers agar penguatan terhadap nilai-nilai kebangsaannya harus terus dikuatkan, bahkan harus terus ditularkan kepada masyarakat,” ujar Munir.
Ia menegaskan produk jurnalistik tetap harus dibuat dalam koridor jurnalistik sekaligus menjaga keutuhan NKRI dan keberagaman bangsa.
“Kita bekerja dalam koridor jurnalisme, di mana memproduksi dan mendistribusi berita. Sehingga berita-berita yang kita produksi, berita-berita yang kita siarkan itu tetap menjaga NKRI, nilai-nilai kebangsaan, dan merawat kebinekaan,” katanya.
Ace menambahkan, menjaga ketahanan nasional merupakan tanggung jawab seluruh komponen bangsa. Karena itu, kerja sama dengan organisasi pers dinilai menjadi salah satu bagian dalam menghadapi perubahan ancaman yang semakin luas.
Add VOI as a Preferred Source
Follow VOI news updates across Google.
+
