
NANJING – Memasuki hari kedua dalam perhelatan Belt and Road Journalist Forum 2026 di Nanjing, China, saya berkesempatan menyusuri sungai Qinhuai (Qinhuai River), yang dipenuhi dengan cerita-cerita sejarah di dalamnya.
Alih-alih hanya menjadi wisata sejarah atau tur perahu biasa, ada sesuatu yang memikat mata saya, yaitu integrasi teknologi projection mapping dan instalasi visual dinamis di sepanjang dindingnya.
Sebagai turis yang baru pertama kali ke kota tersebut, pengalaman ini bukan sekadar mendengar narasi sejarah masa lalu yang membosankan, melainkan sebuah pertunjukan visual yang berhasil mengubah wisata air menjadi immersive storytelling yang lebih hidup.
Selama sekitar 50 menit durasi perjalanan dengan jarak sekitar 3 hingga 5 kilometer itu, saya melihat langsung bagaimana dinding-dingding tua di sepanjang tepian sungai itu disulap menjadi layar digital raksasa.

Lewat sapuan proyektor laser berteknologi tinggi, visual bergerak, animasi naratif, hingga pertunjukan cahaya warna-warni dinding-dinding tersebut berhasil menyihir mata saya.
Menurut saya, fenomena di Sungai Qinhuai ini merupakan manifestasi nyata dari evolusi smart tourism dan pemanfaatan spatial computing di ruang publik terbuka. Apalagi, saat ini Indonesia tengah mendorong sektor pariwisata sebagai motor pertumbuhan ekonomi nasional yang inklusif, tangguh, dan berkelanjutan.
Pada era di mana sektor pariwisata berlomba-lomba memikat audiens muda yang lekat dengan stimulasi digital, pendekatan visual storytelling berbasis arsitektur ini dapat menjadi inovasi baru yang manarik.

Jadi, alih-alih membiarkan kawasan bersejarah menjadi gelap dan sepi selepas senja, instalasi digital ini menciptakan immersive experience yang membuat pengunjung betah berlama-lama sambil mengabadikan momen.
Transformasi digital di Sungai Qinhuai memperlihatkan bagaimana teknologi dapat menghidupkan kembali pesona kawasan bersejarah setelah senja.
