JAKARTA — Sebaran asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia mulai berdampak ke sejumlah negara tetangga, termasuk Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, dan Filipina. Pemerintah Indonesia menyatakan penanganan karhutla menjadi perhatian serius Presiden Prabowo Subianto, terutama karena kebakaran di lahan gambut sulit dipadamkan.
Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan Dudung Abdurachman mengatakan dampak asap lintas batas menjadi salah satu alasan pemerintah terus memperkuat upaya penanganan kebakaran. Ia memastikan personel gabungan telah dikerahkan ke wilayah rawan untuk mempercepat pemadaman.
“Ya memang dampaknya kan ke negara-negara tetangga, makanya beliau sangat perhatian sekali karena memang banyak lahan-lahan gambut yang sulit untuk dipadamkan,” ujar Dudung seusai menghadiri rapat koordinasi bersama Presiden Prabowo Subianto di Istana Merdeka, Jakarta, Senin 12 Oktober.
Dudung, yang bertindak sebagai ketua pengarah penanganan karhutla, mengatakan personel TNI, Polri, dan satuan tugas terkait telah diterjunkan untuk menangani kebakaran. Namun, luasnya wilayah terdampak serta karakteristik lahan gambut menjadi tantangan dalam proses pemadaman.
“Kalau personel sudah dikerahkan, baik TNI, Polri, maupun satuan-satuan yang terkait. Tinggal memang lahan kita sangat luas ya,” jelasnya.
Rapat koordinasi tersebut turut melibatkan Panglima TNI, Kapolri, jajaran Kementerian Kehutanan, dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Pemerintah berharap koordinasi lintas instansi dapat mempercepat penanganan di lapangan sekaligus mengurangi dampak asap terhadap negara lain.
Dampak asap karhutla Indonesia dilaporkan meluas ke beberapa negara di Asia Tenggara. Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, dan Filipina termasuk negara yang terdampak penurunan kualitas udara akibat asap yang terbawa angin dari wilayah Sumatra dan Kalimantan.
Di Malaysia, kabut asap berdampak pada sejumlah wilayah, terutama Sarawak yang berbatasan dengan Kalimantan. Pada awal September 2026, pemerintah Malaysia menetapkan keadaan darurat di wilayah Serian, Sarawak, akibat kondisi kabut asap. Pemerintah juga mengumumkan penutupan sekolah di Johor, Melaka, Negeri Sembilan, Selangor, Kuala Lumpur, dan Putrajaya untuk melindungi kesehatan siswa.
Singapura turut mengalami penurunan kualitas udara akibat asap lintas batas. Kondisi tersebut mendorong otoritas setempat meningkatkan pemantauan kualitas udara dan mengimbau masyarakat, terutama kelompok rentan, membatasi aktivitas luar ruangan ketika tingkat polusi memburuk.
Sementara itu, Brunei Darussalam dan Filipina juga dilaporkan terdampak sebaran asap dari kebakaran di Indonesia. Laporan regional menyebut polusi asap telah melintasi batas negara dan memengaruhi kualitas udara di sejumlah wilayah, meskipun tingkat dampaknya berbeda-beda.
Dampak lintas negara tersebut menambah urgensi penanganan karhutla, terutama di wilayah gambut yang dapat menyimpan bara api di bawah permukaan tanah. Pemerintah terus mengerahkan personel dan memperkuat koordinasi untuk mencegah kebakaran meluas serta mengurangi produksi asap.
Pada tingkat regional, negara-negara Asia Tenggara juga mendorong koordinasi untuk menangani pencemaran kabut asap lintas batas. Kerja sama tersebut antara lain dilakukan melalui kerangka ASEAN Agreement on Transboundary Haze Pollution.
Dudung berharap rapat koordinasi bersama Presiden dapat menghasilkan arahan tambahan untuk mempercepat penanganan, terutama di lokasi yang membutuhkan langkah khusus.
“Mudah-mudahan nanti ada arahan-arahan secara khusus dari Bapak Presiden, khususnya untuk penanganan yang secara insidentil ini,” pungkasnya.
Pemerintah menegaskan penanganan karhutla akan terus dilakukan melalui pengerahan personel, koordinasi lintas sektor, dan langkah pemadaman yang disesuaikan dengan kondisi lapangan. Upaya tersebut diharapkan tidak hanya mengendalikan kebakaran di dalam negeri, tetapi juga mengurangi dampak asap terhadap negara-negara tetangga.
Add VOI as a Preferred Source
Follow VOI news updates across Google.
+
