Sarung Berevolusi Jadi Fashion Item, dari Baju Koko hingga Celana Kargo


JAKARTA – Citra sarung yang selama ini lekat dengan busana ibadah para orang tua kini mulai bergeser. Di kalangan generasi muda, sarung perlahan naik kelas menjadi bagian dari gaya hidup dan fashion item kasual yang fleksibel untuk berbagai aktivitas, mulai dari nongkrong santai hingga padu padan busana harian.

Fenomena pergeseran minat ini dirasakan langsung oleh produsen sarung lokal, PT Bama Prima Textile, melalui lini produk Sarung Asaatid. Tak sedikit anak muda dan pelaku fesyen kreatif yang kini melirik kain sarung untuk dimodifikasi menjadi berbagai bentuk busana kekinian.

Marketing Manager PT Bama Prima Textile, Herman Kurniawan, menuturkan bahwa permintaan kain sarung polosan belakangan banyak datang dari pelaku usaha yang ingin mengubahnya menjadi busana santai anak muda.

“Banyak yang pesan kainnya tanpa kemasan untuk dijual lagi jadi produk lain. Ada yang dibikin sarung celana, baju koko kasual, sampai baju tidur atau outer mirip kimono ala Jepang berbahan sarung. Trennya memang ke arah sana,” ujar Herman di kawasan Senayan, Jakarta Selatan, Rabu, 7 Oktober.

Melihat antusiasme anak muda yang gemar tampil beda dengan sentuhan etnik modern, brand lokal sarung ini tengah menyiapkan inovasi baru. Pihaknya sedang meriset prototipe celana kargo yang menggunakan material kain sarung tenun.

Langkah ini diambil untuk menjembatani anak muda yang ingin tetap tampil trendi tanpa harus merasa kaku memakai sarung konvensional.

“Anak muda sekarang kan suka celana kargo. Nah, kami sedang riset bikin celana kargo tapi bahannya sarung tenun. Modelnya kami padukan antara gaya kargo bersaku samping dengan potongan santai ala celana gajah Malaysia yang lagi tren di tongkrongan. Ini masih dalam tahap R&D sebagai persiapan produk masa depan,” ungkap Herman membocorkan rencananya.

Salah satu alasan sarung kian dilirik generasi muda adalah faktor kenyamanan. Terlebih, sarung ini menggunakan bahan double rayon yang memiliki karakteristik lemas dan jatuh layaknya sarung goyor legendaris, namun diproduksi dengan teknologi tenun modern bermotif ala ATBM (Alat Tenun Bukan Mesin).

Selain memberikan kesan modis berkat teknik motif dobby hingga songket timbul, material rayon ini dinilai sangat bersahabat dengan iklim tropis.

“Karakter kainnya kalau cuaca panas terasa adem, tapi kalau cuaca dingin justru terasa hangat. Tekstur serat rayonnya juga saling mengikat, jadi kalau dilipat di pinggang enggak gampang melorot atau lepas seperti kain yang licin,” jelasnya.

Agar makin dekat dengan gaya hidup anak muda yang serbadigital, sarung asal Pekalongan ini kini mulai memperluas kanal penjualannya ke platform e-dagang dan media sosial, termasuk TikTok Shop dan Shopee.

Dari sisi harga, sarung ini juga terbilang ramah di kantong anak muda. Dibanderol mulai dari Rp70 ribuan hingga Rp400 ribuan untuk kelas super premium seperti seri Elegan, produk ini mencatat penjualan mendekati 100.000 kodi menjelang akhir tahun.

Herman pun membagikan tips simpel bagi anak muda yang baru mulai mengoleksi busana tenun berbahan sarung agar awet dan serat kainnya tidak rusak.

“Untuk pencucian pertama, sebaiknya jangan pakai mesin cuci atau dikucek terlalu kuat. Cukup direndam air dan sedikit deterjen, celup-celup sebentar, lalu diangin-anginkan saja. Jangan dijemur langsung di bawah terik matahari terik biar kainnya tidak mengkerut,” pungkas Herman.

Mengukuhkan posisi sebagai salah satu mahakarya tekstil nusantara, Sarung Asaatid, merek sarung tenun asli Indonesia naungan PT Bama Prima Textile hadir kembali di pameran skala internasional, INACRAFT Vol. 5.

“Ini adalah kali keempat kami ikut INACRAFT. Namun, tahun ini merupakan panggung internasional pertama kami setelah rebranding logo baru dan slogan ‘Kemewahan Sejati’.” ujar Herman Kurniawan.

Sarung ini sendiri diproduksi langsung di Pekalongan, sama dengan merek legendaris Sarung Gadjah Duduk dan Sarung Mangga. Brand sarung yang berdiri lebih satu dekade ini juga sudah diekspor di beberapa negara seperti Malaysia, Somalia, Ethiopia, Yaman, Dubai, dan Oman.

Sarung ini juga dikenal memadukan bahan baku terbaik dan teknik pembuatan motif tingkat tinggi (discharge, songket, dan dobby) sehingga menghasilkan sarung tenun berkualitas premium yang mewah.

Add VOI as a Preferred Source

Follow VOI news updates across Google.

+





Sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *