Lewat Lagu “Kamu Itu Jogja”, Maswil Angkat Cerita Keseharian Kota Istimewa


JAKARTA – Banyak orang, Yogyakarta tidak hanya tentang tempat yang dikunjungi, tetapi juga tentang pengalaman yang tertinggal setelahnya. Suasana hingga keramahan orang-orangnya menjadi bagian dari keseharian yang membuat kota ini memiliki karakter tersendiri.

Semangat itulah yang coba diabadikan musisi sekaligus mahasiswa program doktoral Universitas Gadjah Mada, Maswil, melalui single terbarunya, “Kamu itu Jogja (Istimewa)”, yang dirilis bertepatan dengan Hari Jadi Kota Yogyakarta ke-270 pada 7 Oktober 2026.

Alih-alih menggambarkan Jogja hanya melalui ikon wisata, lagu ini mengambil hal-hal yang lebih dekat dengan keseharian. Petunjuk arah yang terkadang membingungkan, suasana bermasyarakat yang hangat, angkringan, lesehan, hingga pertemuan menjelang senja menjadi bagian dari cerita tentang kota yang lekat dengan kenangan banyak orang.

Pendekatan tersebut membuat Jogja dalam lagu ini terasa seperti sebuah pengalaman personal. Ada tempat, orang, kebiasaan, dan momen sederhana yang pada akhirnya membuat sebuah kota terasa istimewa bagi seseorang.

“Lagu ini diciptakan sebagai wujud cinta, impian, perjuangan menggapai cita-cita serta rasa hormat pada Kota Yogyakarta, kebudayaan, keramahan, masyarakat, dan tentunya kepada Sri Sultan Hamengku Buwono X yang merupakan salah satu tokoh bangsa yang teguh merawat ke-Bhinneka-an. Kota ini Istimewa dan saya ingin mengabadikannya lewat lagu ini,” ungkap Maswil.

Menariknya, pemaknaan tentang “istimewa” yang dibawa Maswil tidak berhenti pada kecintaan terhadap sebuah kota. Peluncuran lagu tersebut juga dikaitkan dengan pengalaman berbagi bersama anak-anak dan pengurus Yayasan Sayap Ibu Panti 3, Yogyakarta.

Acara yang digelar secara simbolis pada 7 Oktober 2026 itu menjadi ruang bagi Maswil dan sahabat-sahabatnya untuk berdonasi, berbagi kebahagiaan, serta bernyanyi bersama.

Pilihan lokasi tersebut sekaligus memperluas makna “istimewa” yang ingin disampaikan, bahwa sesuatu yang berharga tidak selalu berbentuk tempat atau benda, tetapi juga bisa hadir melalui orang lain dan hubungan yang dibangun bersama.

“Saya ingin mengajak pendengar lagu ini untuk merefleksikan dan mengungkapkan makna Istimewa untuk masing-masing dari kita. Istimewa bisa merujuk pada seseorang, sebuah tempat, sebuah momen, sebuah kenangan, sebuah percakapan yang mengubah perspektif kita, sebuah buku, sebuah teori, atau apapun. Hari ini, saya memaknai Istimewa dengan mengajak adik-adik dan teman-teman yang Istimewa di Yayasan Sayap Ibu Yogyakarta untuk bernyanyi bersama. Saya ingin menyatakan bahwa mereka Istimewa. Mereka dicintai dan mereka berharga,” tambah Maswil.

Gambaran tentang Jogja sebagai kota yang dekat dengan keseharian juga muncul dalam lirik “Kamu itu Jogja (Istimewa)”. Angkringan, jalanan, ojek online, tikar untuk beristirahat, hingga suasana menjelang senja menjadi potongan-potongan kecil yang akrab dengan kehidupan masyarakat.

Hal-hal tersebut mungkin terlihat sederhana, tetapi justru dari pengalaman sehari-hari itulah sebuah kota sering kali membentuk ikatan emosional dengan orang-orang yang tinggal maupun pernah datang ke dalamnya.

Dalam konteks itu, “Kamu itu Jogja (Istimewa)” tidak hanya bercerita tentang sebuah kota. Lagu ini juga mengajak pendengarnya melihat kembali apa yang membuat sebuah tempat terasa dekat, yakni kebiasaan yang dilakukan berulang kali, orang-orang yang ditemui, percakapan yang diingat, dan momen sederhana yang tanpa disadari menjadi kenangan.

Lagu “Kamu itu Jogja (Istimewa)” kini dapat didengarkan melalui sejumlah platform digital, termasuk YouTube, Spotify, dan Apple Music, serta melalui media sosial seperti Instagram dan TikTok.

Add VOI as a Preferred Source

Follow VOI news updates across Google.

+





Sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *