Asap Karhutla Pengaruhi Kualitas Udara Manado, BMKG Sebut Ada Kabut Asap Kiriman


MANADO – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) mendeteksi penurunan kualitas udara di Kota Manado, Sulawesi Utara, yang salah satunya dipengaruhi paparan asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Kepala Bidang Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan DLH Manado Leon Piri mengatakan penurunan kualitas udara mulai terdeteksi sejak puncak musim kemarau pada Agustus hingga akhir September 2026.

“Kami mendeteksi terjadi penurunan kualitas udara di Kota Manado yang disebabkan paparan asap Karhutla, serta meningkatnya intensitas debu sepanjang musim kemarau berlangsung,” kata Leon di Manado, Rabu.

Menurut dia, paparan asap karhutla membuat kondisi udara di Kota Manado semakin terpengaruh. Selain asap, peningkatan intensitas debu akibat angin kencang selama musim kemarau serta polusi kendaraan bermotor turut berkontribusi terhadap penurunan kualitas udara.

“Kejadian Karhutla menyebabkan paparan asap di ruang udara Kota Manado semakin pekat,” ujarnya.

Leon menjelaskan partikel debu dan polutan dari berbagai sumber dapat tertinggal di udara sehingga memengaruhi kualitas udara, terutama ketika terjadi kebakaran hutan dan lahan.

“Tentu kualitas udara akan menurun ketika ada kebakaran hutan dan lahan, ada partikel-partikel debu, polutan yang masih tertinggal di atas,” katanya.

DLH Pantau Kualitas Udara

DLH Manado melakukan pemantauan kualitas udara dengan mengambil sampel di sejumlah titik yang mewakili berbagai aktivitas.

Menurut Leon, pengambilan sampel dilakukan di kawasan industri, perkantoran, transportasi, dan permukiman.

“Di semester pertama, hasil pengukuran masih di bawah baku mutu,” katanya.

Namun, Leon mengatakan kualitas udara juga berpotensi semakin memburuk akibat aktivitas pembakaran sampah dan pembukaan lahan dengan metode pembakaran yang masih dilakukan sebagian masyarakat.

BMKG Deteksi Kabut Asap Kiriman

Sementara itu, BMKG Stasiun Klimatologi Sulawesi Utara menyebut wilayah Sulawesi Utara juga mengalami fenomena kabut asap kiriman atau transboundary haze.

Koordinator Bidang Observasi dan Informasi BMKG Stasiun Klimatologi Sulawesi Utara Muhammad Candra Buana mengatakan kabut asap tersebut berasal dari wilayah yang tengah mengalami karhutla, termasuk Kalimantan serta Papua.

Berdasarkan pemantauan dinamika atmosfer dan citra satelit penginderaan jauh, BMKG mengidentifikasi adanya pergerakan massa udara yang membawa partikel asap dari wilayah terdampak karhutla menuju Sulawesi Utara.

“Dari analisis pola pergerakan angin dan sebaran asap satelit, massa udara membawa partikel asap tipis dari aktivitas Karhutla yang terjadi di wilayah Kalimantan, serta wilayah Papua Barat dan Papua Barat Daya,” kata Candra.

Ia menjelaskan partikel asap tersebut terbawa angin pada lapisan atmosfer menengah hingga atas menuju wilayah Sulawesi Utara.

Selain kabut asap kiriman, kejadian karhutla yang berlangsung di wilayah Sulawesi Utara juga turut memengaruhi kondisi udara dalam beberapa waktu terakhir.

Dengan demikian, penurunan kualitas udara di Manado dipengaruhi oleh sejumlah faktor, antara lain paparan asap karhutla lokal, kabut asap kiriman dari wilayah lain, debu selama musim kemarau, emisi kendaraan bermotor, serta aktivitas pembakaran terbuka.

Add VOI as a Preferred Source

Follow VOI news updates across Google.

+





Sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *