Meong Palo Karella Bertemu Maneki Neko, Kucing Jadi Jembatan Budaya Indonesia-Jepang


JAKARTA – Kucing menjadi salah satu titik temu budaya Indonesia dan Jepang dalam pameran Temanku Lima Benua di Fukuoka. Seniman muda itu mempertemukan cerita Meong Palo Karella dari Indonesia dengan simbol kucing Jepang seperti Maneki Neko, Nekomata, dan Bakeneko.

Meong Palo Karella dikenalnya dari cerita sang nenek sejak kecil. Kucing itu digambarkan sebagai teman dan pengawal Dewi Sri atau Dewi Padi, yang membawa pesan tentang penghormatan kepada petani dan alam.

Di Jepang, menurut Lima Benua, kucing juga memiliki tempat kuat dalam mitologi dan budaya populer. Maneki Neko misalnya dikenal sebagai simbol keberuntungan.

Lima Benua melihat kesamaan itu sebagai bahasa budaya yang mudah diterima publik.

“Di Indonesia nama-nama itu akrab di telinga Gen Z, Gen Alfa, bahkan generasi Boomers. Tetapi Indonesia juga punya Meong Palo Karella,” katanya seperti dikutip dari pidato sambutannya yang diterima di Jakarta, Selasa, 6 Oktober.

Ia kemudian mengembangkan tema kucing menjadi karya visual berupa batik, instalasi lingkungan, kertas bekas, dan permainan tradisional.

Dalam pidatonya, Lima Benua menyebut kucing sebagai medium komunikasi visual yang bisa menarik perhatian publik dan mencairkan suasana.

Pendekatan tersebut dibawa dalam Pesta Indonesia Fukuoka 2026, yang menjadi bagian dari rangkaian kegiatan Capturing From Indonesian Soul pada awal Oktober.

Lima Benua berharap cerita sederhana seperti kucing bisa membuka percakapan yang lebih luas tentang budaya Indonesia.

Add VOI as a Preferred Source

Follow VOI news updates across Google.

+





Sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *