Menko Airlangga Ungkap Ketahanan Ekonomi Nasional jadi Modal Perkuat Investasi RI-AS


JAKARTA – Pemerintah terus memperkuat ketahanan ekonomi nasional sekaligus menciptakan iklim investasi yang kondusif di tengah ketidakpastian global.

Kondisi ekonomi yang tetap terjaga menjadi modal bagi Indonesia untuk memperluas kemitraan strategis dengan negara mitra, termasuk Amerika Serikat (AS), terutama dalam mendorong investasi bernilai tambah tinggi dan penciptaan lapangan kerja.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan sejumlah indikator menunjukkan perekonomian Indonesia masih berada dalam kondisi yang relatif kuat, serta pertumbuhan ekonomi, investasi, daya beli masyarakat, serta indikator sosial dinilai menjadi faktor yang turut menjaga kepercayaan investor.

Ia menilai Indonesia melampaui rata-rata global sebesar 5,45 persen secara triwulanan, inflasi sebesar 3,28 persen, investasi meningkat 7 persen dibandingkan tahun lalu, dan indeks keyakinan konsumen kita masih di angka 108,5 persen.

“Kemudian kita memiliki pertumbuhan yang inklusif. Angka Rasio Gini kita adalah 0,36. Tingkat kemiskinan kita turun menjadi 8,7 persen. Lalu pengangguran terbuka sekitar 4,65 persen. Jadi sentimen investor juga cukup yakin dengan ekonomi Indonesia,” ujarnya dalam 14th Annual US-Indonesia Investment Summit “Building Confidence: Strengthening Indonesia’s Investment Climate”, Selasa, 6 Oktober.

Hubungan ekonomi Indonesia dan AS juga terus berkembang, terutama dari sisi perdagangan dan investasi yaitu nilai ekspor Indonesia ke AS meningkat dari 25,83 miliar dolar AS pada 2021 menjadi 31,01 miliar dolar AS pada 2025.

Sementara itu, hingga Semester I-2026, ekspor Indonesia ke AS telah mencapai 15,85 miliar dolar AS dengan surplus perdagangan sebesar 8,56 miliar dolar AS.

AS juga masih menjadi salah satu dari lima sumber utama Foreign Direct Investment (FDI) Indonesia yaitu pada Semester I-2026, realisasi investasi dari AS tercatat sebesar 1,72 miliar dolar AS.

Untuk semakin memperkuat daya tarik investasi, pemerintah menetapkan arah kebijakan ekonomi 2027 dengan tema “Higher Growth – Faster Prosperity”, yang menargetkan pertumbuhan ekonomi menuju 8 persen.

Kebijakan tersebut diarahkan untuk memperkuat sektor-sektor bernilai tambah tinggi, merevitalisasi sektor ekonomi yang memiliki daya tahan, meningkatkan kapasitas ekspor dan investasi, serta mempercepat pengembangan digitalisasi, semikonduktor, dan Artificial Intelligence (AI).

Dalam strategi tersebut, sektor swasta tetap ditempatkan sebagai motor utama investasi dan penciptaan lapangan kerja, sementara itu, Danantara akan berperan melalui investasi strategis yang berorientasi komersial.

Transformasi digital juga menjadi salah satu sektor yang terus didorong untuk membuka peluang investasi baru, dimana Indonesia yang merupakan ekonomi digital terbesar di ASEAN diproyeksikan memiliki nilai ekonomi digital sebesar 180 miliar dolar AS hingga 340 miliar dolar AS pada 2030.

Pemerintah terus mendorong pengembangan infrastruktur digital, termasuk data center berbasis AI di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Nongsa dan pengembangan ekosistem semikonduktor di koridor Batam-Bintan.

Selain sektor digital, percepatan transformasi industri juga dilakukan melalui pengembangan 25 KEK yaitu hingga Juni 2026, kawasan tersebut telah mencatatkan akumulasi realisasi investasi sebesar Rp368 triliun atau sekitar 20 miliar dolar AS serta menyerap lebih dari 283 ribu tenaga kerja.

Di sisi lain, Indonesia terus memperluas akses pasar melalui berbagai kerja sama ekonomi internasional, antara lain BRICS+, G20, RCEP, ASEAN, OECD, dan CPTPP. Serta Pemerintah juga mengembangkan sejumlah perjanjian perdagangan, termasuk Indonesia–EU CEPA dan Canada CEPA, serta mempersiapkan CEPA dengan Inggris.

Dalam hubungan bilateral dengan AS, implementasi Indonesia-US Agreement on Reciprocal Trade (ART) menjadi salah satu fokus pemerintah dan kesepakatan tersebut diarahkan untuk memperluas akses pasar, mengurangi hambatan tarif dan nontarif, serta memperkuat rantai pasok antara Indonesia dan AS.

Airlangga berharap berbagai peluang tersebut dapat diterjemahkan menjadi investasi konkret dan kemitraan ekonomi yang lebih erat antara Indonesia dan pelaku usaha AS.

“Kami sangat berharap dapat terus bekerja sama dengan komunitas bisnis Amerika Serikat untuk mengubah berbagai peluang strategis ini menjadi investasi yang konkret dan kemitraan yang lebih kuat guna mendorong pertumbuhan ekonomi bersama,” pungkasnya.

Add VOI as a Preferred Source

Follow VOI news updates across Google.

+





Sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *