Batik Kudus, Demak, dan Banyumas Pernah Berjaya, Kini Berjuang Dikenal Lagi


JAKARTA – Batik Kudus, Demak, dan Banyumas pernah menjadi bagian penting dari produksi batik Nusantara. Namun, perjalanan waktu membuat tiga tradisi batik itu tak lagi sepopuler masa lalu. Produksi turun, regenerasi pembatik melemah, sementara selera pasar ikut berubah.

Kurator Junior Museum Tekstil Mutiara Zahwa Nauli Siregar mengatakan penurunan produksi mulai terasa cukup tajam pada periode 1960 hingga 1980-an.

Perubahan pasar, berkurangnya minat generasi muda, pola hidup masyarakat, serta faktor sosial dan ekonomi ikut memengaruhi keberlanjutan tradisi tersebut.

“Batik yang berjuang ini perlu kita perkenalkan lagi, karena mau bagaimanapun batik ini tetap merupakan salah satu dari identitas nasional kita, dengan keindahannya yang tidak kalah menarik untuk mata dan hati,” kata Zahwa, dikutip dari Antara, Sabtu, 3 Oktober.

Jejak tiga tradisi itu kini ditampilkan dalam pameran “Jejak Keindahan, Batik Kudus, Demak, dan Banyumas” di Museum Tekstil Jakarta.

Sebanyak 60 koleksi dipamerkan, terdiri atas tiga batik Demak, 15 batik Kudus, dan 42 batik Banyumas. Sebagian besar berupa batik tulis dan berasal dari koleksi lama Museum Tekstil.

Masing-masing memiliki karakter yang berbeda.

Batik Kudus dikenal dengan motif berukuran besar dan berani. Latar kain dipenuhi isen-isen atau ragam hias kecil yang mengisi ruang di antara motif utama.

Koleksi yang ditampilkan antara lain kain panjang bergaya Kudusan dengan motif tanaman air, kyai janggar, dan beras mawur. Ada pula kain pagi-sore dengan motif buket, burung, kupu-kupu, dan sisik ulo.

Batik Demak menunjukkan karakter pesisir yang banyak menggunakan stilisasi flora atau penggambaran bentuk tumbuhan yang telah diolah menjadi motif hias.

Sementara Batik Banyumas memiliki garis dan motif yang lebih tegas. Koleksi yang dipamerkan antara lain motif lung-lungan, burung, andang mukti, ukel, hingga buketan tambal.

Menurut Zahwa, perjalanan batik di ketiga daerah juga berkaitan dengan pengaruh Islam dan sejarah masyarakat setempat.

“Ketiga daerah ini memiliki pengaruh Islam yang cukup kuat karena karya batik daerah tersebut dipelopori oleh figur Muslim di Indonesia yang terkenal seperti Sultan Agung di Kudus, Sunan Kalijaga di Demak bahkan sampai Najendra, salah satu pengikut Pangeran Diponegoro yang menetap di Banyumas,” ujarnya.

Kepala Unit Pengelola Museum Seni Dinas Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta Sri Kusumawati mengatakan menjaga batik tidak cukup hanya menyimpan kain.

Informasi tentang pembuat, daerah asal, teknik, motif, pewarnaan, fungsi, hingga cerita masyarakat di balik kain juga perlu didokumentasikan.

“Meskipun masa kejayaannya mungkin telah berlalu, jejak keterampilan, kreativitas, dan nilai budaya yang terkandung dalam karya-karya tersebut tetap hidup hingga hari ini,” kata Sri.

Pameran tersebut digelar dalam rangka Hari Batik Nasional 2026 dan berlangsung di Museum Tekstil Jakarta hingga 2 November 2026.

Add VOI as a Preferred Source

Follow VOI news updates across Google.

+





Sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *