JAKARTA – Peneliti di Swedia mengembangkan “ilmuwan AI” yang mampu menjalankan seluruh siklus penelitian, mulai menyusun hipotesis, merancang eksperimen, hingga membaca hasilnya dengan campur tangan manusia yang sangat terbatas.
Menurut Euronews, dikutip Sabtu, 3 Oktober, sistem itu menggabungkan sejumlah model bahasa besar atau LLM, basis data berukuran besar, serta robot laboratorium. Hasil eksperimen kemudian dipakai kembali oleh AI untuk menguji dan memperbaiki hipotesis pada tahap berikutnya.
Kemampuan itu diuji menggunakan S. cerevisiae, spesies ragi yang juga dikenal sebagai ragi bir atau ragi roti.
AI menganalisis sekitar 60.000 hubungan fenotipik, fisiologis, dan metabolik pada ragi tersebut. Dari data itu, sistem menghasilkan hampir 2.000 prediksi yang dapat diuji mengenai pengaruh nutrisi terhadap pertumbuhan sel dan ketahanan terhadap stres.
“Informasinya terlalu banyak untuk dianalisis manusia, tetapi ilmuwan AI kami mampu mengidentifikasi pertanyaan biologis yang menjanjikan, merekomendasikan eksperimen untuk mengujinya, mengevaluasi hasil eksperimen, dan secara berulang menyempurnakan pemahamannya berdasarkan bukti baru,” kata Ievgeniia Tiukova, peneliti Chalmers University of Technology dan salah satu penulis studi.
AI kemudian mengevaluasi hipotesis tersebut, memilih kontrol pembanding, dan mengubah rancangan penelitian menjadi instruksi langkah demi langkah yang dapat dijalankan peralatan laboratorium.
Setelah eksperimen selesai, sistem menganalisis data untuk menentukan apakah prediksinya terbukti.
Hipotesis yang tidak sesuai dengan hasil kemudian diperbarui atau disempurnakan sebelum digunakan dalam siklus penelitian berikutnya.
“Alih-alih hanya berfungsi sebagai alat pendukung pengambilan keputusan, ilmuwan AI secara aktif menghasilkan pengetahuan ilmiah baru,” ujar Tiukova.
Para peneliti menilai otomatisasi akan semakin banyak digunakan dalam penelitian seiring perkembangan robotika, AI, dan teknologi berkapasitas tinggi yang memungkinkan banyak eksperimen diproses dengan cepat.
Ross King, penulis senior studi dari University of Gothenburg, mengatakan sistem seperti ini dapat mempercepat penelitian di bidang biologi, kedokteran, dan bioteknologi.
“Sistem AI semacam itu berpotensi mengurangi waktu yang diperlukan untuk mengeksplorasi pertanyaan ilmiah yang kompleks dan mengoptimalkan penggunaan sumber daya laboratorium,” kata King.
Meski AI dapat mengerjakan banyak tahapan penelitian, para peneliti menegaskan manusia tetap dibutuhkan.
Menurut King, manusia tetap memegang peran dalam menentukan prioritas, memahami konteks yang lebih luas, menyusun program penelitian, serta memastikan penelitian mematuhi aturan etika.
Para peneliti juga menilai otomatisasi dapat mengurangi bias dan kesalahan manusia, termasuk pencatatan protokol eksperimen yang tidak lengkap serta variasi kondisi yang dapat memengaruhi hasil penelitian.
Perkembangan AI dalam penelitian mulai diikuti perhatian terhadap tata kelolanya.
Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO baru-baru ini menerbitkan rekomendasi bagi peneliti, komite etik, regulator, pemberi dana, dan pembuat kebijakan agar penelitian kesehatan yang menggunakan AI dilakukan secara bertanggung jawab.
Direktur Departemen Science for Health WHO Meg Doherty mengatakan AI membuka peluang besar untuk mempercepat penelitian kesehatan. Namun, menurut Doherty, inovasi tetap harus disertai perlindungan etika terhadap martabat manusia, hak, dan kesetaraan.
Add VOI as a Preferred Source
Follow VOI news updates across Google.
+
