Trump Ancam Korsel Bayar Lebih Mahal jika Tak Dukung Proyek LNG Alaska


JAKARTA – Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengancam akan mengenakan biaya lebih tinggi kepada Korea Selatan (Korsel) jika Seoul tidak mendukung proyek LNG Alaska.

Ancaman itu muncul setelah pemerintah Korea Selatan membantah bahwa keterlibatannya dalam proyek gas alam cair tersebut sudah disepakati secara final.

“Saya tidak gegabah mengambil tindakan. Maksud saya, mereka ada di sana dan diwakili. Dan kita lihat saja. Jika mereka tidak mau melakukannya, saya tidak masalah. Saya hanya akan mengenakan biaya lebih kepada mereka,” kata Trump di Gedung Putih, dikutip dari Sputnik melalui Antara, Sabtu, 3 Oktober.

Trump sebelumnya mengumumkan Korea Selatan akan menginvestasikan 200 miliar dolar AS atau sekitar Rp3,57 kuadriliun dengan kurs Rp17.850 per dolar AS untuk sejumlah proyek energi di Amerika Serikat.

Paket itu disebut mencakup proyek LNG Alaska serta pembangunan proyek energi nuklir.

Bloomberg sebelumnya melaporkan investasi Korea Selatan untuk proyek Alaska mencapai 54 miliar dolar AS atau sekitar Rp963,9 triliun dengan kurs yang sama.

Nilai tersebut disebut menjadi bagian dari komitmen investasi lebih besar senilai 350 miliar dolar AS atau sekitar Rp6,25 kuadriliun ke Amerika Serikat pada 2025.

Namun, Menteri Perdagangan, Industri dan Sumber Daya Korea Selatan Kim Jung-kwan membantah bahwa sudah ada kesepakatan resmi mengenai proyek LNG Alaska.

Menurut Kim, kedua negara hanya menyepakati tiga poin yang tercantum dalam lembar fakta.

Ia juga menilai pernyataan dan angka pasti yang disampaikan Washington melampaui apa yang sebenarnya telah dibahas.

Perbedaan itu juga terlihat dalam perkembangan terbaru. Korea Selatan menyatakan keterlibatan pada proyek LNG Alaska masih bergantung pada kajian komersial dan persyaratan hukum.

Proyek LNG Alaska sendiri dirancang untuk membawa gas dari North Slope melalui pipa sepanjang sekitar 1.300 kilometer menuju fasilitas pencairan di Nikiski, Alaska selatan.

Nilai proyek diperkirakan mencapai 44,5 miliar hingga 54,5 miliar dolar AS. Namun, kelayakan komersialnya masih menjadi perhatian karena biaya proyek dinilai lebih tinggi dibanding sejumlah fasilitas LNG di kawasan Pantai Teluk Amerika Serikat.

Add VOI as a Preferred Source

Follow VOI news updates across Google.

+





Sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *